Perjalanan pulang dari hotel menuju gedung Kizen Group diliputi keheningan yang terasa berbeda. Verlyn duduk di kursi penumpang, melemparkan pandangannya lurus ke luar jendela. Ia berusaha keras menata raut wajahnya agar tetap tenang, meski dadanya bergemuruh heboh tiap kali mengingat insiden muntah dan bisikan Kayn semalam. Di sampingnya, Kayn yang menyetir sendiri justru tampak amat tenang. Pria itu sesekali melirik wanita di sebelahnya, tidak lagi menyembunyikan binar hangat di matanya. "Minumlah dulu. Ini kopi latte favoritmu," ujar Kayn lembut, menyodorkan cangkir kopi yang sempat ia pesan di lobi hotel tadi. Verlyn tersentak tipis, menerima cangkir itu tanpa berani menatap langsung mata Kayn. "T-terima kasih, Tuan Kayn." Bibir Kayn terangkat sedikit, membentuk senyum samar. "Kurangi panggil formal begitu saat kita sedang berdua, Verlyn." Pipi Verlyn mendadak memerah panas. Ia buru-buru menyesap ko
Read more