Verlyn tertegun sejenak. Ia memiringkan kepalanya, menatap Kayn dengan kehangatan yang tidak bisa disembunyikan. Senyum tipis terulas di bibirnya."Cuma berdua?" tanya Verlyn pelan, sedikit menguji keberanian pria di hadapannya. "Yakin kamu enggak akan diam-diam membawa laptop untuk cek laporan bursa?"Kayn terkekeh rendah. "Enggak sama sekali. Laptop, dokumen, bahkan ponsel kerja akan aku kunci di brankas. Fokusku cuma buat kamu."Verlyn menyesap champagne-nya sekali lagi, lalu menurunkan gelasnya ke meja terdekat. Ia menatap Kayn lurus-lurus dengan tatapan lega yang sudah lama hilang."Ke mana kamu mau ajak aku?" gumam Verlyn halus.Mendengar pertanyaan itu, senyum Kayn kian melebar—sebuah senyuman lega dari pria yang akhirnya mendapatkan lampu hijau setelah menunggu begitu lama."Ada vila pribadi di pesisir Amalfi. Sepi, tenang, dan angin lautnya sempurna," bisik Kayn lembut, melangkah setengah tindak lebih dekat. "Aku
Read more