"Kayn... lepas," gumam Verlyn lirih dengan suara serak khas bangun tidur.Jemari lentiknya berusaha mendorong lengan kokoh yang melingkar erat di pinggangnya, tapi lengan itu justru makin memperketat kuncian."Lima menit lagi, sweetheart," balasan berat dan dalam terdengar dari balik tengkuk Verlyn, diselingi bisikan hangat yang membuat dadanya berdesir pelan.Verlyn akhirnya menyerah. Kelopak matanya terbuka perlahan, menyerap keemasan sinar matahari pagi yang menembus celah gorden kamar utama vila. Angin laut yang membawa hawa musim panas berembus lembut, membelai gorden putih yang melambai pelan.Saat Verlyn mencoba menggeser tubuhnya sedikit untuk berbalik, selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka tanpa sehelai benang pun meluncur turun beberapa sentimeter. Pandangannya tidak sengaja menangkap pantulan diri di cermin besar depan ranjang.Pipi Verlyn seketika memanas hebat. Di leher jenjangnya, tulang selangka, hingga ke ar
Read more