Tirta tertawa dan membalas, "Sebenarnya biasa saja. Keberuntunganku yang paling besar itu bertemu kalian. Semua istriku sangat cantik, murah hati, bijaksana, dan lembut. Tuhan benar-benar menyayangiku."Wajah Elisa dan lainnya memerah setelah mendengar candaan Tirta. Mereka mulai bergairah. Kalau bukan karena Kamala berada di sini, mereka ingin bersenang-senang dengan Tirta.Sesungguhnya Tirta masih memikirkan apa yang dibicarakan Genta dengan manusia burung itu.Tiba-tiba, Althea menunjuk kotak batu di atas meja dan bertanya, "Sayang, coba kamu lihat itu apa. Semalam kami ingin membukanya, tapi takut muncul bahaya. Jadi, kami nggak menyentuhnya."Elisa juga memandang ke arah meja batu dan menimpali, "Iya, Tirta. Apa kamu punya cara untuk membuka kotak itu? Siapa tahu ada obat mujarab untuk memulihkan luka. Kebetulan kamu bisa mengonsumsinya biar lukamu pulih.""Aku lihat dulu," kata Tirta. Dia menghampiri meja batu, lalu mengamati kotak itu sejenak. Namun, Tirta tidak menemukan apa pu
Read more