Sinar matahari sore masuk melalui jendela besar apartemen Leo, menyinari lantai kayu berwarna terang. Zurich terasa tenang—rapi, bersih, dan jauh dari hiruk pikuk yang biasa Anisa kenal.Anisa masih berada di apartemen itu.Padahal, kondisinya sudah jauh lebih baik. Demamnya turun, tubuhnya tidak lagi gemetar, dan kesadarannya sepenuhnya pulih. Namun Leo bersikeras.“Apartemen ini ada dua kamar,” kata Leo waktu itu, nada suaranya tenang namun tegas.“Kalau kamu takut aku menyelinap masuk kamar… kamu tinggal kunci pintunya.”Kalimat itu membuat Anisa tersedak napas sendiri.Bukan karena takut.Justru karena… Leo terlalu tenang saat mengatakannya.Kini, Anisa berada di dapur.Ia duduk di kursi roda yang baru saja dibelikan Leo. Ia mengenakan celemek sederhana. Di hadapannya, sebuah wajan di atas kompor modern—yang sayangnya, lebih tinggi dari kompor di Indonesia pada umumnya.Anisa berjinjit sedikit di kursi roda, mencoba mengintip isi wajan. “Hmm…” gumamnya pelan.Aromanya sudah harum
Last Updated : 2025-12-23 Read more