“Pahitnya bukan main,” jawab Leo. “Aku sampai mikir, ini kopi atau ujian hidup.”Anisa terkikik. “Makanya, jangan sok kuat.”Leo melirik ke arahnya. “Aku kuat kok. Cuma lidahku masih nasionalis.”Anisa menggeleng pelan. “Dasar.”Mereka berjalan lagi. Leo tiba-tiba berhenti, lalu tertawa kecil sendiri.“Kenapa?” tanya Anisa curiga.“Aku baru ingat,” kata Leo. “Aku pernah nyasar di Paris.”“Serius?” Anisa membelalakkan mata. “Padahal kamu pakai peta digital.”“Iya,” Leo mengangguk. “Aku ikuti petanya, tapi malah muter-muter.”“Terus?”“Terus aku sadar,” Leo melirik Anisa sambil tersenyum tipis, “otakku sibuk mikirin hal lain.”“Hal apa?” Anisa menyipitkan mata.Leo berhenti mendorong kursi roda, lalu sedikit membungkuk. “Orang yang sekarang ada di depanku.”Anisa terdiam, lalu berdeham gugup. “Jalan, Leo. Nanti kamu nyasar lagi.”Leo tertawa pelan dan kembali melangkah."Kali ini pasti tidak, karena kamu sudah ada di sisiku."Anisa menunduk, pipinya memanas.Begitu sampai di depan resto
Last Updated : 2025-12-31 Read more