Sejak pagi, Anisa sudah dipindahkan ke ruang persiapan operasi. Lampu-lampu putih di langit-langit menyala terang, terasa terlalu terang untuk hatinya yang sedang rapuh. Perawat datang silih berganti, menjelaskan prosedur dengan suara lembut namun profesional—seolah-olah hidup dan mati seseorang hanyalah rutinitas harian bagi mereka.Di ruangan ini, hanya Aishwa yang mendampinginya. Sedangkan Noah menunggu di luar. Alasannya sederhana, begitu banyak tindakan medis yang dilakukan. Mengganti pakaian pasien, memasang kateter dan masih banyak tindakan lainnya. Karena itu Noah memilih untuk di luar."Mulai sekarang, kamu harus puasa ya," ujar seorang perawat sambil tersenyum simpul. "Tidak makan, tidak minum."Anisa hanya mengangguk pelan. Bukan hanya perutnya yang kosong; dadanya pun terasa hampa.Prosedur dimulai. Darah diambil dari lengannya—satu tabung, dua tabung, hingga tak terhitung lagi. Jarum infus ditancapkan, mengalirkan cairan dingin yang merayap perlahan di pembuluh darahnya.
Read more