Anisa terbangun ketika cahaya pagi menyelinap perlahan melalui celah tirai. Untuk sesaat, ia bergeming, menunggu rutinitas yang biasanya hadir lebih dulu sebelum kesadarannya utuh.Biasanya, Leo sudah ada di sana.Biasanya, suara napas pria itu yang pertama kali ia dengar.Lalu, tangan kokoh itu akan mengangkatnya pelan, seolah tubuh Anisa bukanlah beban. Leo akan menggendongnya menuju kamar mandi, atau kembali merebahkannya sambil berbisik manja bahwa pagi terlalu dingin untuk dilewati sendirian.Namun pagi ini, kesunyian menyambutnya dengan dingin.Tempat di sampingnya kosong. Terlalu rapi.Tidak ada jejak yang menunjukkan seseorang baru masuk ke dalam kamarnya. Atau aroma parfum milik Leo Anisa duduk perlahan. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena panik, melainkan karena sebuah firasat yang belum berani ia beri nama.“Leo?” panggilnya lirih.Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang memantul di dinding kamar. Ia meraih ponsel di nakas. Layarnya menyala, menampilkan
Last Updated : 2026-01-07 Read more