Pintu kamar hotel akhirnya terbuka. Noah melangkah keluar lebih dulu, rambut sedikit berantakan, wajahnya tampak puas sekaligus kelelahan. Ia menarik napas panjang, seperti seseorang yang baru kembali ke dunia nyata setelah dua hari menghilang. Beberapa detik kemudian, Aishwa menyusul. Langkahnya teramat pelan. Pinggang sedikit miring, bahu turun, dan setiap langkah diambil dengan ekspresi menahan, seolah lututnya sedang bernegosiasi dengan gravitasi. “Mas,” gumamnya, suara lirih tapi penuh tuduhan, “ini kenapa kakiku rasanya kayak bukan punya aku?” Noah menoleh, alisnya naik sebelum menutup mulut untuk menahan tawa. “Jalanmu kenapa kayak nenek-nenek habis senam pagi?” tanyanya polos—kesalahan fatal. Aishwa berhenti, menoleh pelan dengan tatapan tajam. “Mas Noah,” katanya sambil menunjuk pinggangnya, “ini semua akibat kamu.” Noah langsung mengangkat tangan. “Eits. Jangan dibalik fakta.” “Apa fakta?” “Kamu yang sering mulai,” jawab Noah tenang dan santai. “Aku cuma… menanggapi.”
Read more