MasukEmpat tahun kemudian.Jakarta berubah jauh lebih sibuk dibanding sebelumnya.Gedung-gedung tinggi berdiri megah memenuhi pusat kota. Lampu kendaraan memenuhi jalanan bahkan sejak sore hari. Dan di tengah kerasnya dunia bisnis ibu kota—nama Arbi mulai dikenal banyak orang.Sebuah perusahaan teknologi bernama Arvion Tech yang baru berdiri dua tahun lalu, kini berkembang dengan sangat cepat.Tidak hanya di Indonesia. Namun mulai merambah pasar Asia Tenggara.Banyak orang menyebut pendirinya sebagai pria muda yang terlalu gila bekerja.Dan itu memang benar.Karena selama empat tahun terakhir— Arbi benar-benar hidup untuk satu tujuan.Alicia.Pria itu berdiri di depan jendela ruang kerjanya yang berada di lantai tertinggi gedung kantor.Malam sudah larut.Namun lampu di ruangannya masih menyala.Di meja kerja masih berserakan proposal, laporan keuangan, dan tablet yang sejak tadi belum berhenti berbunyi.Namun perhatian Arbi justru tertuju pada sebuah foto kecil di sudut meja.Foto seoran
“Awalnya aku menganggap semua ini hanya kebetulan,” ucap Anisa pelan. “Tapi setelah melihat video yang direkam Leo dan beberapa foto sebelum dia meninggal… wajahnya sangat mirip dengan Papi.”Anisa menatap Mirna sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya.“Lesung pipitnya, senyumnya, matanya, hidungnya… semuanya mirip. Karena itu aku penasaran dan akhirnya melakukan tes DNA.”Mirna tertawa lirih.Namun air matanya terus mengalir tanpa henti.“Papi-mu begitu takut aku mengetahui semua ini…” suaranya bergetar. “Tapi aku tidak menyangka… dia setega itu membuang darah dagingnya sendiri.”Anisa terdiam sesaat.Lalu ia tersenyum tipis, meski sorot matanya terlihat lelah.“Sepertinya Papi juga tidak pernah tahu kalau beliau memiliki anak lain.”Deg.Jantung Mirna langsung berdebar keras.Pikirannya seketika kembali ke masa lalu.Dua puluh tahun lebih yang lalu…Saat ia mempekerjakan seorang asisten rumah tangga muda untuk membantu merawat Anisa kecil.Wanita itu berasal dari Jakarta.Pendiam. T
Ruangan itu kembali hening.Hanya suara isak tangis Mirna yang terdengar pelan memenuhi kamar perawatan tersebut.Anisa berdiri diam di dekat ranjang.Tatapannya jauh lebih tenang dibanding dulu.Karena entah sejak kapan— rasa benci yang selama ini memenuhi hatinya perlahan menghilang.Mungkin karena waktu.Mungkin karena hidupnya sudah terlalu bahagia sekarang.Atau mungkin…karena melihat kondisi kedua orang tuanya yang begitu memprihatinkan.“Yang terpenting sekarang…” suara Anisa terdengar pelan namun lembut. “Mami harus kuat.”Mirna perlahan mengangkat wajahnya.“Walau bagaimanapun…” lanjut Anisa lirih, “…Mami harus menjaga Papi.”Deg.Tangis Mirna kembali pecah.Wanita itu menutup wajahnya sambil menggeleng lemah.“Bagaimana caranya…?”Suaranya benar-benar hancur.“Aku saja bahkan tidak bisa mengurus diriku sendiri…”Tatapannya turun perlahan ke bagian bawah selimut.Kosong.Tidak ada lagi kedua kaki yang dulu menopang hidupnya.“Aku sekarang cuma jadi beban…”Kalimat itu terden
Rumah sakit itu terasa sunyi.Lorong panjang berwarna putih dipenuhi aroma obat-obatan dan suara langkah kaki perawat yang berlalu-lalang sejak pagi.Berbeda dengan keluarga Hermawan yang sudah kembali ke Paris— Leo dan Anisa, justru memilih tetap tinggal beberapa hari lebih lama di Indonesia.Bukan tanpa alasan.Mereka datang untuk melihat kondisi dua orang yang selama ini menjadi bagian dari masa lalu kelam Anisa.Mirna. Dan Sandy.Suasana di lantai perawatan VIP terasa begitu hening ketika langkah kaki Anisa berhenti di depan sebuah pintu kamar.Tangannya perlahan mengepal.Sedangkan Leo berdiri di samping istrinya sambil memperhatikan wajah Anisa dengan tenang.“Kalau nggak siap… kita bisa pulang,” ucap pria itu pelan.Anisa menggeleng kecil.“Aku harus masuk.”Leo akhirnya mengangguk.Dan perlahan— pintu kamar itu terbuka.Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela besar di sudut ruangan. Namun suasana di dalam kamar tetap terasa dingin.Mirna duduk sendiri di atas ranjang rumah
Salju masih turun perlahan.Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, membuat jalanan Jepang terlihat seperti potongan adegan film romantis.Namun di antara banyak pasangan yang berjalan menikmati musim dingin— Atar dan Jasmine justru sibuk berdebat soal makanan.“Aku mau itu.”Jasmine menunjuk kios kecil penjual taiyaki di pinggir jalan.Atar mengikuti arah telunjuk istrinya. Lalu mengangguk pelan.“Oke.”Beberapa menit kemudian— Jasmine sudah memegang taiyaki hangat berbentuk ikan sambil meniup-niup pelan karena masih terlalu panas.Sedangkan Atar berdiri di sampingnya sambil kedua tangan masuk ke saku coat.“Aku ngerti sekarang,” gumam pria itu.“Ngerti apa?” tanya Jasmine sambil menggigit sedikit kue itu.“Kenapa orang rela keluar rumah pas musim dingin.”“Karena saljunya cantik?”“Karena makanan hangat," kata Atar.Jasmine langsung tertawa kecil.“Mas pikirannya makan terus.”“Ya realistis.”“Mas dari tadi realistis mulu.”“Atar memang pria penuh kenyataan.”Jasmine kembali t
Jepang menyambut pasangan baru itu dengan musim dingin yang tenang.Salju turun perlahan sejak pagi. Menutupi jalanan, pepohonan, dan atap bangunan dengan warna putih lembut yang terlihat seperti lukisan.Dari jendela hotel mewah tempat mereka menginap, pemandangan kota terlihat begitu indah.Namun berbeda dengan Jasmine— Atar justru memandang keluar jendela dengan ekspresi seperti orang sedang dizalimi kehidupan.“Mas…” Jasmine berdiri di dekat kaca sambil menahan senyum. “Ini cantik banget.”“Hm.”“Saljunya turun.”“Hm.”“Mas nggak Excited?”Atar menoleh pelan. Wajah tampan pria itu terlihat datar sambil memeluk selimut tebal.“Tentu saja bersemangat.” Jawabannya pendek sekali.Jasmine langsung tertawa kecil.Karena sejak sampai tadi malam— suaminya itu benar-benar seperti beruang musim dingin.Kerjanya cuma: masuk selimut. minum yang hangat. dan bilang dingin setiap lima menit sekali.Padahal di Indonesia, Atar terlihat begitu keren dan berwibawa.Begitu sampai Jepang— langsung ber
Sinar matahari sore masuk melalui jendela besar apartemen Leo, menyinari lantai kayu berwarna terang. Zurich terasa tenang—rapi, bersih, dan jauh dari hiruk pikuk yang biasa Anisa kenal.Anisa masih berada di apartemen itu.Padahal, kondisinya sudah jauh lebih baik. Demamnya turun, tubuhnya tidak
Noah duduk santai di sofa ruang keluarga.Di sebelahnya, Meline duduk bersila, matanya berbinar menatap layar televisi. Film kartun sedang diputar—warna-warni cerah, suara karakter yang berisik, dan adegan konyol yang membuat Noah tertawa lepas.“Ih, dia jatuh lagi,” Noah terkekeh.“Kasihan tapi lu
Seketika—meja makan yang tadinya hangat berubah menjadi kekacauan.Michael refleks memanggil pelayan.“Air! Cepat! Cepat! Paman Rizky hampir mati!”Rizky batuk sampai wajahnya merah padam dan air matanya keluar.Kiara panik sambil mengusap punggung suaminya.“Noah… kamu ini ya… ngomong kok langsun
Bandara Charles de Gaulle siang itu ramai banget. Penumpang dari mana-mana berlalu-lalang, koper berderet kayak kereta api, pengumuman terdengar bersahutan. Tapi di tengah keramaian itu—Jasmine berdiri kaku kayak patung di dekat pembatas kedatangan. Topi kecil menutupi rambutnya, masker menempel r







