Sandy tergagap.“A-aku cuma menjalankan apa yang mereka mau—”Eliza memotongnya dengan senyum yang masih sama.“Kamu masih sama,” ucap Eliza pelan.“Tidak berubah sama sekali.”Jantung Sandy berdentum keras.Kalimat itu menghantamnya tepat di dada. Ada harap yang muncul begitu saja, bodoh dan tak tahu diri. Dia masih peduli, pikirnya. Dia masih menyisakan sesuatu untukku.Wajah Sandy sedikit berubah, matanya berkilat.Namun Eliza tidak berhenti di situ.“Sama pengecutnya,” lanjut Eliza, suaranya tetap datar.“Tidak berguna sama sekali.”Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.“Melindungi anakmu sendiri saja tidak bisa.”DUAGH.Kalimat itu seperti tamparan keras.Sandy terdiam. Wajahnya memucat, bibirnya terbuka namun tak satu pun kata keluar.Nathan yang sejak tadi diam akhirnya angkat suara—singkat, tenang, dan mematikan.“Arbi,” katanya, menyebut nama itu dengan santai namun penuh tekanan,“anak kemarin sore saja sudah berani berdiri paling depan untuk melindungi keponakannya.”Nat
Baca selengkapnya