“Memangnya cuma kamu yang punya badan?” Tia menyindir tajam. “Aku juga bisa sakit!”“Ya sudah kamu saja kalau begitu!”“Kamu saja!”“Kamu!”“Kamu!”Suara mereka saling tumpang tindih.Saling dorong tanggung jawab.Saling melempar beban—tanpa satu pun yang benar-benar mau menerima.Mirna memijat pelipisnya lagi, kesal.“Cukup!” bentaknya tiba-tiba.Kedua wanita itu terdiam, meski masih saling menatap dengan emosi.Mirna menghembuskan napas kasar, lalu berkata dengan dingin, “Kita tidak mungkin semua tinggal di sini. Harus ada yang jaga. Tapi bukan aku.”Tia langsung mengangguk. “Aku juga tidak.”Tina menyusul cepat, “Aku juga tidak mau.”Keputusan itu terasa begitu mudah diucapkan.Tanpa rasa bersalah.Tanpa beban.Di sudut ruangan—Sandy masih berdiri.Diam.Sejak awal ia tidak ikut dalam perdebatan itu.Tidak menyela.Tidak membela diri.Tidak juga menawarkan solusi.Ia hanya berdiri, dengan wajah yang semakin kosong.Seolah sudah terlalu lelah untuk melawan.Mirna melirik ke arahny
Read more