Pagi itu—pantai masih sepi.Langit baru saja berubah warna, dari gelap menuju keemasan.Angin laut berhembus lembut, membawa aroma yang menenangkan.Di atas pasir—Jasmine duduk bersila.Tangannya sibuk membentuk sesuatu.“Atar, yang besar ya. Ini harus jadi istana, bukan rumah biasa,” katanya serius, seolah proyek itu adalah hal paling penting di dunia.Atar yang duduk di sampingnya hanya tersenyum.Lengan switernya sudah digulung, tangannya ikut kotor oleh pasir—namun wajahnya tetap tenang.“Baik, Nona Arsitek,” jawabnya ringan.“Menara berapa?”“Empat. Yang tinggi. Terus di sini ada pintu besar… sama jalan masuk.”Atar mengangguk patuh.Ia mengikuti setiap instruksi, membentuk, merapikan, bahkan memperhalus sisi-sisi istana pasir itu dengan telaten.Sesekali—Jasmine tertawa kecil saat bentuknya tidak sesuai bayangannya.Dan Atar… hanya ikut tertawa, memperbaikinya tanpa keluhan.Waktu berlalu tanpa terasa.Dan akhirnya—“Jadi!” seru Jasmine bangga.Di depan mereka berdiri sebuah
Read more