Rumah utama itu— kembali ramai.Setelah beberapa hari terasa lengang, akhirnya suara langkah, tawa, dan percakapan hangat memenuhi setiap sudutnya.Di ruang tengah— dua sosok yang selama ini memilih tinggal diam di rumah, duduk berdampingan.HermawandanMawarKeduanya tampak tenang.Namun begitu pintu utama terbuka— dan anak serta cucu-cucu mereka mulai masuk—senyum itu perlahan muncul.“Wah… akhirnya pulang juga,” suara Mawar lembut, namun penuh kehangatan.Jasmine langsung berlari kecil mendekat, seperti anak kecil yang rindu pelukan.“Omaaa…”Ia memeluk wanita tua itu erat.Mawar tertawa pelan, mengusap punggung cucunya dengan penuh kasih.“Kok makin manja saja kamu ini,” godanya.Hermawan mengangkat alis, menatap satu per satu anggota keluarga yang baru tiba.“Hm… lengkap,” gumamnya.Namun tatapannya berhenti pada satu hal—Jasmine dan Atar.Cara mereka berdiri. Cara mereka saling melirik. Cara mereka tidak bisa menyembunyikan sesuatu.Hermawan bukan orang sembarangan.Ia tidak
続きを読む