Malam merambat perlahan, seperti tangan gelap yang menutup dunia tanpa permisi. Lampu kamar hanya menyala setengah, menciptakan bayangan panjang di dinding. Jasmin duduk bersandar di kepala ranjang, selimut tipis melingkari tubuhnya, sementara Reyan masih berdiri di dekat jendela, punggungnya tegak namun kaku.Ada jarak yang tidak kasatmata di antara mereka. Bukan jarak tubuh, tapi jarak pikiran.Jasmin memandangi siluet Reyan. Ia mengenal postur itu. Cara bahunya sedikit terangkat, rahang yang mengeras, tatapan kosong ke arah luar seolah ada sesuatu yang ingin ia lawan sendirian. Jasmin menarik napas pelan, menimbang-nimbang kata di kepalanya.“Rey,” panggilnya akhirnya.Reyan menoleh, tapi tidak langsung mendekat. “Iya?”“Kamu nggak perlu jadi kuat sendirian di sini.”Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Reyan terdiam. Ia berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang, menunduk, menatap lantai. Tangannya saling bertaut, jari-jarinya menekan satu sama lain seolah menahan sesuatu
Última atualização : 2026-01-27 Ler mais