로그인Malam itu, hujan turun rintik-rintik.Lampu kota berpendar samar di balik jendela apartemen yang disewa Anisa secara diam-diam. Danu berdiri di dekat balkon, menyalakan rokok dengan tangan sedikit gemetar. Asap tipis membumbung, bercampur dengan udara dingin yang masuk dari celah pintu kaca.Anisa duduk di sofa, menyilangkan kaki. Wajahnya tidak lagi menampilkan duka. Tidak ada sisa kesedihan menantu yang baru kehilangan mertua. Yang ada hanyalah tatapan tajam penuh perhitungan.“Sekarang waktunya,” kata Anisa pelan, namun mantap.Danu menoleh. “Kamu yakin?”Anisa tersenyum miring. “Alex lumpuh. Orang tuanya sudah tidak ada. Pak Rusdi juga mati. Tinggal aku dan Amara.”Danu menghembuskan asap. “Amara itu masalah.”“Tidak,” Anisa menggeleng. “Justru dia solusi.”Danu mengernyit. “Maksudmu?”Anisa bangkit, berjalan mendekat. “Dia terlalu polos. Terlalu patuh. Dan sekarang… terlalu sibuk menjaga Alex.”Danu terdiam, mulai memahami arah pikirannya.“Aku akan buat seolah-olah dia rela menj
Lorong ICU malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.Lampu putih menyala tanpa ampun, memantulkan bayangan langkah Amara yang berjalan tertatih. Setiap langkah terasa seperti menginjak pecahan kaca—pelan, menyakitkan, dan penuh ketakutan.Tangannya menggenggam ujung gamis erat-erat, telapak tangannya dingin, basah oleh keringat. Di balik pintu kaca bertuliskan INTENSIVE CARE UNIT, hidup orang-orang yang paling berarti bagi hidupnya sedang berada di ujung garis.“Non Amara…” seorang perawat menghentikannya dengan lembut. “Tuan Alex sudah sadar. Tapi hanya sebentar.”Amara mengangguk cepat. “Saya… saya cuma ingin melihat.”Pintu ICU dibuka.Suara alat medis langsung menyambutnya—bunyi bip yang teratur, namun terdengar seperti hitungan waktu yang kejam.Alex terbaring di ranjang, wajahnya pucat, selang oksigen terpasang. Saat matanya bergerak dan menangkap sosok Amara, sorot itu berubah. Ada lega, ada rindu, ada takut yang tertahan.“Amara…” suaranya sangat pelan.Amara mendekat. Lutu
Empat bulan telah berlalu sejak hari ketika koper itu ditutup dan Tuan Alex melangkah keluar dari kamar pernikahannya bersama Anisa.Waktu berjalan, tapi tidak bagi semua orang dengan cara yang sama.Di rumah Nyonya Ambarwati, pagi itu terasa berbeda. Udara dipenuhi aroma masakan tradisional—opor, sayur lodeh, tumpeng kuning yang menjulang rapi di tengah meja panjang. Beberapa kerabat dekat dan tetangga pilihan tampak sibuk membantu, wajah-wajah mereka cerah oleh senyum dan doa.Hari itu adalah syukuran empat bulan kehamilan Amara.Amara duduk di ruang tengah, mengenakan kebaya sederhana berwarna krem pucat. Wajahnya terlihat lebih berisi, pipinya sedikit merona. Tangannya beberapa kali mengusap perutnya yang mulai membulat—gerakan refleks seorang ibu yang mulai merasakan ikatan batin dengan kehidupan kecil di dalam rahimnya.Nyonya Ambarwati berdiri tak jauh darinya, sesekali mengawasi dengan mata penuh kasih.“Kamu capek?” tanyanya lembut.Amara menggeleng. “Tidak, Ny—eh… Mama,” kat
Pak Joko tidak punya siapa-siapa lagi.Setelah diusir dari rumah Bu Laras dan dipermalukan di depan warga, ia hidup menumpang dari satu tempat ke tempat lain. Uang yang pernah ia terima kini hampir habis—sebagian untuk menutup hutang lama, sebagian lagi lenyap untuk bertahan hidup.Namun yang paling menyiksanya bukan kemiskinan.Melainkan rasa bersalah.Setiap malam, wajah Bu Laras yang tegar bercampur dengan tatapan dingin Amara terus menghantuinya. Ia sadar, satu-satunya orang yang mendorongnya ke jurang ini adalah perempuan yang kini hidup nyaman di rumah megah—Anisa.Sore itu, dengan sisa harga diri yang hampir punah, Pak Joko memberanikan diri menemui Anisa di apartemen kecil yang biasa ia sewa diam-diam.Pintu terbuka.Anisa berdiri dengan pakaian rapi, wajahnya cantik seperti biasa. Namun senyumnya hilang begitu melihat siapa yang datang.“Kamu?” nada Anisa datar. “Ngapain ke sini?”Pak Joko masuk tanpa diundang. Wajahnya kusut, matanya cekung.“Hidup saya hancur,” katanya lang
Fitnah itu menyebar seperti api yang disiram bensin.Awalnya hanya bisik-bisik kecil di warung kopi. Lalu berpindah ke pos ronda. Dari mulut ke mulut, cerita itu berubah bentuk—semakin kejam, semakin keji.“Katanya Bu Laras itu yang menjual anaknya sendiri.”“Iya, demi harta orang kaya.”“Pantas sekarang hidupnya enak.”“Anaknya dijadikan istri kedua. Jijik!”Bu Laras tidak tahu dari mana semua itu bermula.Ia hanya merasakan perubahan sikap orang-orang di sekitarnya. Senyum yang dulu ramah kini menghilang. Sapaan yang biasanya hangat berubah dingin. Tatapan mata penuh curiga dan jijik mengikuti setiap langkahnya.Suatu sore, saat Bu Laras pulang dari sawah dengan tubuh letih dan kaki berlumpur, ia mendapati beberapa orang sudah berkumpul di depan rumahnya.Pak RT berdiri paling depan. Wajahnya keras.“Bu Laras,” katanya lantang. “Kita perlu bicara.”Bu Laras mengangguk gugup. Alif dan Alya berdiri di belakangnya, saling menggenggam tangan.“Ini soal apa, Pak?” tanya Bu Laras pelan.P
Malam semakin larut.Lampu-lampu kota berkilau seperti bintang yang jatuh ke bumi, tapi di salah satu kafe kecil yang tersembunyi di sudut jalan, cahaya justru terasa muram. Musik instrumental mengalun pelan, namun tidak mampu menutupi ketegangan dua orang yang duduk saling berhadapan di sudut ruangan.Anisa menyilangkan kaki dengan anggun. Gaun hitamnya menempel sempurna di tubuh, mempertegas aura dingin yang kini melekat padanya. Di hadapannya, Pak Joko duduk dengan gelisah, tangannya tak berhenti memainkan sendok kecil di cangkir kopi yang sudah dingin.“Katakan saja rencananya, Nyonya,” ucap Pak Joko akhirnya. “Saya orang desa, tidak suka bertele-tele.”Anisa tersenyum tipis.“Justru karena itu saya memilih Bapak,” katanya lembut, tapi matanya tajam. “Bapak terlihat polos… tapi saya tahu Bapak cerdik.”Pak Joko mendengus kecil. “Kalau memang cerdik, tentu tahu semua ada harganya.”Anisa tertawa pelan. Ia membuka tasnya, mengeluarkan ponsel, lalu memutar layar ke arah Pak Joko. Di







