"Hah, Raisa juga bingung Ma," ucap Raisa. Bersamaan dengan itu Nyonya Sinta mendapatkan telepon dari Haidar. "Halo, Nak." "Haidar hampir sampai, Ma." Setelah bicara Haidar langsung menutup panggilan telepon. "Sampai mana, Nak? Mama belum–" Tut Tut Tut. Suara Nyonya Sinta terpotong dengan bunyi panggilan yang terputus. "Hufft! Anak itu selalu begini." Nyonya Sinta membuang napas. "Haidar Ma? Apa katanya?" tanya Raisa penasaran. "Sudah hampir sampe Raisa. Yuk ke dapur!" Nyonya Sinta mendahului Raisa masuk ke dalam dapur. Raisa mengekor di belakangnya."Biar Raisa saja Ma," ucap Raisa ketika Nyonya Sinta memasak dengan gugup."Ah baiklah, sebenarnya Haidar minta masakan Mama, tapi Mama enggak bisa memasak dengan baik kalau didesak. Tapi tidak apa-apa deh, masakan kamu pasti jauh lebih enak.""Terima kasih pujiannya Ma, semoga hasilnya tidak mengecewakan.' Raisa segera berkutat dengan bahan-bahan dapur. Ia mengerjakan secepatnya kilat agar saat Haidar sampai, makanan sudah siap d
Read more