Haidar tercengang, Zola begitu tenang memanggil namanya, tanpa embel-embel atau panggilan 'Mas' lagi."Kau tidak perlu minum kopi di sini, Haidar. Pulanglah," ulang Zola. Suara Zola sangat pelan, nyaris tak terdengar di antara riuhnya obrolan pelanggan dan denting cangkir kopi, namun menusuk Haidar hingga ke tulang. Tidak ada kehangatan, tidak ada kerinduan, bahkan tidak ada kejutan. Hanya sebuah pengakuan dingin akan kehadirannya, seperti ia hanyalah hantu dari masa lalu yang tak diinginkan. Bibirnya membentuk garis tipis, seolah menahan ledakan emosi yang siap tumpah. “Zola, tunggu,” Haidar berusaha melangkah maju, namun kaki Zola sudah bergerak mundur, menjauh dari meja bar, menuju area dapur. “Aku … aku harus bicara denganmu.” Zola tidak menoleh, punggungnya menegang. “Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.” “Ada. Banyak. Kumohon.” Haidar merasa putus asa. Ia tahu ia tidak bisa membuat keributan di sini. Pandangan mata Bu Susi, kasir di kafe, sudah terasa mengintimidasi. Wanit
Read more