Zola tertawa hambar, air mata akhirnya menetes membasahi pipinya. “Ratu? Mama pikir saya butuh itu? Saya tidak butuh gelar apa pun di rumah itu. Yang saya butuhkan adalah dihargai sebagai manusia, sebagai istri, sebagai ibu. Dan kalian … kalian tidak akan pernah bisa memberikan itu, Ma.” “Bukan begitu, Zola. Kami sudah sadar. Kami .…” “Tidak, Ma,” potong Zola, suaranya bergetar, namun penuh kepastian. “Kalian tidak akan pernah menghargai saya sebagai istri. Kalian hanya akan melihat saya sebagai ibu tiri Kirana, atau pelayan di rumah itu, atau alat untuk menjaga reputasi keluarga. Dan pada akhirnya, saya hanya akan kembali menjadi korban. Korban dari ambisi Haidar, korban dari sifat egoisnya, dan korban dari ketidakpedulian Mama selama ini.” Keheningan melingkupi sambungan telepon. Zola bisa mendengar Nyonya Sinta terisak pelan. “Mama tahu, Zola. Mama tahu kamu benar,” akhirnya Nyonya Sinta berkata, suaranya serak. “Mama memang bodoh. Mama minta maaf. Mama … Mama tidak pernah
Ler mais