Liam melangkah pelan memasuki ruang inap istrinya. Di ranjang itu, Naura terbaring dengan mata terpejam rapat, bibirnya sedikit mengatup seolah mencoba menahan perasaan yang menggelegak di dalam dirinya. Liam menatap wajah istrinya yang tampak lelah dan dingin, lalu suaranya pecah saat berbicara, "Naura, aku tahu kamu sangat membenciku, tapi bisakah kamu memberikan aku kesempatan demi anak ini?" Suasana hening sesaat, hanya terdengar detak jarum jam yang mengisi kekosongan. Liam mendekat, menatap tajam ke arah mata tertutup itu. "Naura, aku tahu kamu belum tidur," ucapnya dengan lembut namun penuh keyakinan. Naura mengerjap pelan, memaksa matanya terbuka, wajahnya menampilkan campuran kelelahan dan kepedihan. "Jujur saja, aku nggak bisa," suaranya bergetar, menahan amarah yang sudah lama terpendam. "Walaupun awalnya kita menikah karena kesepakatan, aku juga punya hati dan perasaan," tambahnya, matanya mulai berkaca-kaca saat bayangan Liam yang sering menghabiskan wakt
Terakhir Diperbarui : 2025-10-02 Baca selengkapnya