Tubuh kami rasanya sangat kaku bahkan tidak sanggup untuk bergerak ada rasa tatapan yang langsung menusuk dan merubah atmosfer di sekitar kami. Ku lirik wajah Wardi yang ketakutan dan langsung bersimpuh tanpa lama aku mengikutinya diikuti oleh Barga dan Atma.“Wardi,” panggilnya yang turun dari kuda menatap kami semua.“I-iya, Raden Sembada,” ucap Wardi gemetar, “Ada apa ini? Kenapa wajah kalian semua babak belur?”Wardi tidak berani menjawab begitupun dengan ku, Atma, dan Barga. Rasanya lidahku kelu untuk menjawab pertanyaan itu.“Kalian tidak bisa menjawabnya?”“I-itu...Raden...Sebenarnya...”“Wardi menghalangi jalan kami untuk pulang, Raden,” jawab Atma mantap aku menyenggol lengannya.“Atma, apa yang kamu lakukan?” bisikku pelan, “Tenanglah, Danastri. Aku tidak tahu harus menjawab apa.”“Benarkah itu, Wardi? Kamu menghalangi jalan mereka untuk pulang.”“Tidak, Raden. Aku hanya ingin bertanya sesuatu, tapi dia memukulku,” sanggah Wardi cepat dan menunjuk keberadaan Barga.“Sialan,”
Last Updated : 2025-12-20 Read more