“Valerin!"“Iya?”“Kau memikirkan Frederitch, bukan?”Sebelum menjawab, Valerin mengulum senyum seadanya. Dia menggeleng pelan. “Kau harus diam dengan tenang, jika tidak ini akan sulit, Liam," ucap Valerin Grayii memengang blade 10, ia sempat menghela nafas sejenak. “Ini akan sakit, tapi beruntung, pelurunya tidak masuk begitu dalam.” Valerin beucap sambil gloves bedah pada kedua tangannya yang siap beraksi.Sang Viscount yang tengah berbaring tengkurap itu hanya mengangguk. “Aku pernah menjadi kolonel, perang, luka dan peluru itu bukan apapun karena ku sudah biasa menghadapinya," ucap William Rovana dengan nada bicara yang tenang.“Aku tak tahu soal itu." Valerin menerjabkan kedua matanya. “Ya, ini adalah satu hal yang tak kau tahu, karena kau banyak tahu," kekeh William Rovana.Valerin menggeleng saja, dia langsung mengores permukaan kulit Sang Viscount, sebelumnya Valerin memang sudah melihat banyak bekas luka dipunggung lebar itu. Beberapa ada bekas sayatan, cambukan dan bekas
Last Updated : 2026-01-21 Read more