Chapter 77Tanpa Nama Genevece Ruangan itu dingin dan tenang, lampu putih menggantung di atas, cahayanya jatuh rata tanpa bayangan memperlihatkan setiap detail dengan jelas. Dindingnya bersih, lantainya mengilap, kursi-kursi tertata rapi seperti bagian dari ruang yang memang dirancang untuk sesuatu yang pasti, bukan sekadar kemungkinan. Di tengah ruangan itu, Audrey duduk dengan kedua tangan terborgol, tubuhnya tegak tapi jelas menahan sesuatu yang tidak lagi utuh.Kain hitam yang menutup matanya baru saja dilepas, dunia kembali dalam terang, tapi tidak membuatnya lega bahkan napasnya masih tertahan. Di depannya, beberapa langkah dari jarak yang tidak terlalu dekat tapi cukup untuk terasa, Luna berdiri.Tidak ada perubahan besar pada penampilannya yang tetap tenang, rapi, dan tetap seperti seseorang yang tidak perlu membuktikan apa pun untuk diakui. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari caranya berdiri dan menatap. Bukan marah atau puas, tetapi lebih seperti seseorang yang akhirnya sa
Read more