LOGINChapter 75Pengkhianat Di pinggiran kota yang jauh dari keramaian, rumah itu berdiri dalam kesederhanaan yang nyaris terasa asing bagi Audrey. Dindingnya kusam, lantainya dingin, dan udara di dalamnya tidak pernah benar-benar hangat. Sejak ia datang, tidak ada sambutan yang bisa disebut ramah, hanya ada toleransi tipis.Abigail memang membuka pintu untuknya, tapi tidak pernah benar-benar menerima kehadirannya. Dimulai dengan tatapan dingin, sindiran yang dibungkus dalam kalimat biasa, dan desahan panjang yang tidak pernah disembunyikan. Audrey tidak dimaki secara terang-terangan, tapi kata-kata Abigail selalu cukup tajam untuk menyentuh tepat di titik yang paling mengganggu karena ia "tiba-tiba muncul membawa masalah" membuat setiap detik di rumah itu terasa semakin sempit.Audrey berusaha menahan semuanya, bukan karena ia tidak mampu membalas, tapi karena tahu ia tidak punya pilihan lain. Ia hanya butuh tempat sementara beberapa hari, itu yang ia yakinkan pada dirinya sendiri meski
Chapter 74 Berakhir Pintu tertutup kembali dengan bunyi yang pelan, namun terasa mengunci seluruh ruang. Udara yang sejak tadi sudah dingin mendadak terasa lebih berat ketika Luna melangkah masuk sepenuhnya diikuti Luke yang berdiri sedikit di belakangnya, tenang seperti bayangan yang selalu mengawasi. Matt mengambil posisi di sisi pintu, memastikan tidak ada yang keluar, tidak ada yang masuk, dan memastikan tidak ada yang mengganggu apa pun yang akan terjadi di dalam ruangan itu. Beata tidak mampu berbicara, tubuhnya kaku, bahunya sedikit terangkat tanpa ia sadari, dan napasnya pendek-pendek seolah setiap tarikan udara membutuhkan usaha lebih. Matanya berpindah dari satu wajah ke wajah lain, tapi selalu kembali pada Luna seakan hanya perempuan itu yang benar-benar menentukan segalanya. Luna melangkah mendekat dengan ritme yang sama seperti malam sebelumnya. Tenang dan tanpa emosi yang terlihat, ia berhenti pada jarak yang sama seolah posisi itu sudah ditentukan sejak awal. Tatap
Chapter 73 Retak Sore itu terasa berat seolah udara di dalam rumah kecil itu ikut menekan dada siapa pun yang bernapas di dalamnya. Draco duduk di kursi kayu yang sudah mulai lapuk, tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya saling bertaut di depan. Di atas meja, beberapa lembar kertas berserakan-lamaran kerja yang sudah ia kirim, beberapa bahkan kembali tanpa balasan. Sudah berhari-hari dan berkali-kali ia melamar pekerjaan, tetapi tetap tidak ada panggilan. Bahkan saat ia mencoba melamar pekerjaan menjadi buruh kasar sekali pun, tidak seorang pun memberinya kesempatan. Di seberangnya, Pietro berdiri dengan wajah yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa muaknya. Tatapannya tajam, bukan sekadar marah, tapi juga lelah-lelah karena merasa semua yang terjadi adalah akibat dari kesalahan yang tidak bisa ia perbaiki. "Kau masih di situ?" suaranya akhirnya pecah, beratm dan penuh sindiran. "Menunggu keajaiban jatuh dari langit?" Draco tidak langsung menjawab, hanya menarik napas pel
Chapter 72Kehilangan Kendali Sepenuhnya Udara pagi masih menyisakan dingin tipis ketika langkah Diego San Lorenzo memasuki lapangan tembak privat itu. Tempatnya luas dan bersih, dengan barisan lintasan yang rapi dan target yang berdiri diam di kejauhan. Bau mesiu samar masih tertinggal di udara bercampur dengan kesunyian yang terjaga.Di ujung lintasan, Silvana Bonnardo berdiri dengan postur sempurna, satu angannya memegang pistol dengan jari telunjuk berada di pelatuk. Rambutnya terikat rapi dan menyisakan beberapa helai halus yang membingkai wajahnya. Penampilannya sederhana, tapi setiap detail terlihat mahal dan elegan tanpa harus dijelaskan.Tembakan dilepaskan, suara peluru menghantam target terdengar bersih, nyaris presisi. Silvana menurunkan senjatanya perlahan dan tidak langsung menoleh seolah ia sudah tahu siapa yang datang."Kau terlambat," ujarnya ringan, masih menghadap ke depan. Diego berhenti beberapa langkah di belakangnya. "Aku tepat waktu," ucap Diego acuh.Silvana
Chapter 71PengakuanPagi itu datang dengan tenang seolah beberapa hari terakhir tidak pernah dipenuhi ketegangan. Cahaya matahari menyusup tipis dari sela tirai, jatuh lembut di atas ranjang tempat Luna terbaring. Ia terbangun perlahan, bukan karena suara atau gangguan, melainkan karena tubuhnya yang terbiasa siaga bahkan dalam tidur.Di sisinya, Liam masih tertidur, napas kecilnya teratur dan wajahnya damai dengan satu tangan yang tanpa sadar mencengkeram kain pakaian Luna. Pemandangan itu menahan Luna beberapa detik lebih lama, tatapannya melembut sesaat sebelum kembali kosong seperti semula.Getaran halus dari ponsel di meja samping memecah keheningan itu, Luna meraihnya tanpa suara dan matanya langsung menangkap nama yang muncul di layar.Ia menjawab tanpa basa-basi. "Ya, Azzura."Suara di seberang terdengar cepat dan ditahan, tapi jelas. Ada sesuatu yang berbeda dari nada biasanya. Azzura tidak berputar-putar dan langsung menyampaikan inti kabar bahwa seseorang telah mengirim se
Chapter 70Sesuatu yang Sempat RetakPintu ruangan itu terbuka tanpa ketukan terlebih dulu dan menghantam dinding dengan suara keras yang memecah ketenangan malam. Audrey masuk dengan langkah cepat dan tegas seolah setiap detik yang terbuang adalah penghinaan, ia tidak memberi waktu siapa pun untuk bereaksi, bahkan tidak memberi kesempatan bagi dirinya sendiri untuk menahan emosi yang sejak sore tadi mulai merayap naik ke permukaan.Di dalam ruangan, Diego San Lorenzo berdiri di dekat meja panjang dengan beberapa berkas terbuka di depannya. Ia tampak tidak terkejut seolah kedatangan Audrey sudah berada dalam perkiraannya, hanya alisnya yang sedikit terangkat ketika melihat cara perempuan itu masuk dan melangkah denga cepat bahkan cenderung terlalu kasar untuk ukuran seseorang yang biasanya begitu terkontrol.Audrey berhenti tepat beberapa langkah di depannya. Tatapannya tajam dan dingin, tapi ada sesuatu yang bergetar halus di baliknya, sesuatu yang tidak biasa ia perlihatkan."Di man
Chapter 56 Rumah yang Tidak Layak Hujan turun tipis dan malas, seperti ragu apakah layak membasahi kota yang sudah busuk sejak lama. Bangunan rumah susun itu berdiri miring, catnya mengelupas, jendelanya kusam, dan lampu lorong berkedip seolah setiap detik bisa padam. Audrey mengenakan mantel p
Chapter 55 Pemain Lama Dua bulan kemudian. Malam itu Palermo berkilau dengan cara yang dingin. Bukan kemewahan yang hangat, melainkan cahaya lampu kristal yang memantul di marmer putih dan gaun mahal, menciptakan kesan bersih yang terlalu sempurna untuk sebuah kota yang hidup dari darah dan rah
Chapter 54 Bukan Musuh yang Terang Beberapa hari kemudian, Diego datang sendirian ke markas besar Genevece, tidak ada konvoi panjang maupun sirine. Mobil hitam itu berhenti di halaman markas Genevece tepat saat matahari mulai turun, cahayanya pucat dan dingin, memantul di marmer putih seperti
Chapter 49 Retakan Pagi di mansion Genevece terasa lebih sunyi dari biasanya, cahaya matahari merambat pelan melalui jendela besar, menyentuh lantai marmer seperti sesuatu yang ragu untuk benar-benar hadir. Luna terjaga sejak malam berakhir, tetpi tidak pernah benar-benar tidur. Tubuhnya diam, m







