Perlahan-lahan aku mencoba membuka mata, meski pandanganku masih kabur dan berat. Cahaya lampu yang teramat terang membuatku memicing, namun di balik silau itu aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Kulihat Ibu. Awalnya kukira itu hanya khayalanku, sisa dari kelelahan dan kepalaku yang masih terasa berat. Tetapi ketika tangan itu membelai rambutku, hangat dan penuh kasih, aku tersadar bahwa ini nyata. “Ibu?” "Iya, sayang. Ini ibu.” Suara itu menenangkan sesuatu di dadaku yang sejak lama terasa runtuh. Belaiannya membuatku ingin menangis, namun aku terlalu lemah bahkan untuk itu. Aku mencoba mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Mataku menyapu sekeliling. Banyak perlengkapan rumah sakit terpasang di tubuhku. Selang, infus, alat monitor, semuanya menegaskan bahwa tubuh ini benar-benar telah menyerah. “Kamu istirahat dulu, Nduk,” kata Ibu lembut. “Ibu akan di sini menjaga kamu.” “Azahra enggak apa-apa, Bu,” kataku sambil memaksakan senyum kecil, menyembunyik
Terakhir Diperbarui : 2026-01-05 Baca selengkapnya