Home / Romansa / SENDIAKALA / 11 KEPUTUSAN TIGA PIHAK

Share

11 KEPUTUSAN TIGA PIHAK

Author: Lila Oktavia
last update Last Updated: 2026-01-02 20:33:58

"Apa? Menikah dengan Azahra?" Suara itu terdengar cukup lirih, tapi aku yang berada tak jauh dari mereka bisa mendengar apa yang diucapakan mas Risam. Ku lihat mas Risam melepas paksa genggaman tangan mbak Aiza dari bahunya, "Apa yang kamu pikirkan hingga bisa memutuskan hal seperti ini?"

"Sudah berkali-kali aku berpikir untuk membuat keputusan ini, Sayang. Ini aku lakuin demi kebaikan kita, kebaikan kamu juga." Mbak Aiza mengelah.

Ku cengkram kuat nampan berisi suguhan yang ku bawa. Aku tak bisa mendevinisikan rasa yang sedang menyerbuku kini, entah marah atau apa. Tapi jujur, rasanya au seperti di permainkan. Mengetahui pernyataan dari mas Risam pada mbak Aiza aku merasa kehilangan harga diri, aku seperti barang yang di lempar kemanapun dan sesukanya.

"Ini salah, Aiza. Aku enggak akan menikah lagi, apalagi dengan Azahra, aku sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Bagaimana bisa aku menikahinya? Dan kamu sendiri, bagaimana bisa kamu memikir hal sejauh ini?"

"Mas, percaya sama aku..."

"Enggak, untuk kali ini enggak." Mas Abrisam beranjak dari kursi, kemudian menuju keluar. Dia katakan jika ingin pulang malam ini juga.

Sama seperti mas Risam yang ingin mempertahankan pendiriannya, mbak Aiza juga demikian, dia tidak ingin menerima keputusan mas Risam begitu saja. Di luar rumah ku lahat mereka melanjutkan perdebatan itu, lamat-lamat suaranya bisa ku dengar. Aku dan ibu tidaK berani untuk mendekat ataupun masuk di antara mereka. Hingga selalng beberapa waktu, mas Risam meminta tolong kepada kami karena mba Aiza pingsan. Kami panik dan membawa mbak Aiza ke rumah sakit terdekat. Dan kini kami hanya bisa pasrah di lorong rumah sakit yang sepi.

Mas Risam duduk di ujung bangku, wajahnya disembunyikan di balik kedua telapak tangannya. Jaketnya yang tadi rapi kini tampak kusut, persis seperti raut wajahnya saat Mbak Aiza ambruk di depan rumah tadi. Aku bisa melihat bahunya sedikit berguncang, bukan karena tangis yang meledak, tapi karena beban rasa bersalah yang sepertinya sedang menghimpitnya.

Dokter keluar dengan membawa beberapa hasil pemeriksaan, dokter mengatakan jika mbak Aiza sudah sadarkan diri. Dokter juga berpesan untuk tidak menekannya untuk saat ini sebelum mengajak Mas Risam ke ruangannya.

Aku dan ibu masuk untuk menemui mbak Aiza. Pintu berderit pelan saat aku mendorongnya. Di atas ranjang putih itu, Mbak Aiza terbaring lemah. Wajahnya yang biasa cerah kini sepucat kain sprei yang membungkus tubuhnya. Matanya terbuka sayu, menatap kosong ke arah langit-langit kamar, seolah jiwanya masih tertinggal di kejadian menyakitkan tadi siang.

Ibu langsung menghampiri sisi ranjang, menggenggam jemari Mbak Aiza yang terasa dingin. "Mbak Aiza..." bisik Ibu lirih. Suara Ibu bergetar, menahan tangis yang sejak tadi tertahan di tenggorokan.

Aku berdiri di kaki ranjang, hanya bisa mematung. Tapi mbak Aiza menoleh pelan. Saat matanya bertemu dengan mataku, setetes air mata jatuh melewati pelipisnya. Ia tidak bersuara, namun sorot matanya bicara lebih banyak dari pada ribuan kata. Tangannya bergetar menggapaiku seolah menginginkanku untuk mendekat. Akupun mendekat dan menggenggam erat tangan dinginnya, "Azahra... Ibu... tolong maafkan saya."

Bagaimana caraku menjelaskan kepada mbak Aiza jika ada rasa sakit yang tak bisa kujelaskan sedemikian mungkin di dalam sini.

Decitan pintu memecah kesunyian. Aku melihat Mas Risam memasuki ruangan dengan langkah gontai. Dengan beban yang bisa kulihat dari tatapan kosongnya. Ibu segera mengajakku bangkit, memberikan ruang bagi Mbak Aiza dan suaminya untuk berbicara empat mata. Kami pun beranjak menuju lorong rumah sakit.

Sekitar setengah jam kami menunggu di sini. Keheningan yang panjang membuat Ibu akhirnya terlelap, menyandarkan kepalanya yang tampak lelah di pundakku. Tak lama kemudian, Mas Risam keluar. Wajahnya kusut, menyiratkan beban emosional yang sulit kudeskripsikan. Barangkali lelah, sedih, atau bimbang yang amat sangat.

"Bagaimana keadaan Mbak Aiza, Mas?" tanyaku lirih, takut membangunkan Ibu.

"Sudah lebih baik, jauh lebih baik," jawabnya singkat. Ia terdiam sejenak, menatapku lurus. "Emm... Azahra, saya ingin bicara dengan kamu. Bisa kita ke taman sebentar?"

Aku mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah Mas Risam menuju taman rumah sakit yang sepi dan dingin.

"Azahra, saya tidak tahu apa yang sebenarnya berkecamuk di pikiran istri saya sekarang," Mas Risam memulai pembicaraan, suaranya parau tertiup angin malam. "Yang saya tahu, dia sangat menyayangi saya dan keluarga ini. Dia merasa... keputusan yang dia ambil adalah satu-satunya cara untuk membuat kami semua bahagia."

Mas Risam mengembuskan napas berat, seolah mencoba melepaskan sesak yang menghimpit dadanya.

"Saya... saya benar-benar bingung, Azahra. Selama ini saya sudah menganggap kamu seperti adik saya sendiri. Tapi permintaan Aiza, dan melihat keadaannya yang seperti sekarang..." Ia menjeda ucapannya, menatap kosong ke arah deretan tanaman yang temaram.

"Awalnya, saya ingin menegaskan bahwa saya menolak permintaan itu. Saya ingin menolak keinginan Mbak Aiza mentah-mentah. Tapi setelah mempertimbangkan banyak hal, melihat kerapuhannya... saya merasa iba. Saya merasa memiliki utang budi yang begitu besar atas segala kebaikan yang diberikan Mbak Aiza selama ini." Ku beranikan diri untuk menatap Mas Risam, "dan mungkin... ini cara saya membayarnya."

Mas Risam menatapku, ada kilat keterkejutan di matanya.

"Menikah dengan tatacara yang demikian akan sangat menyakitkan untuk kita berdua. Tapi, melihat Mbak Aiza seolah kehilangan nyawanya karena ketakutan akan masa depan kita... itu jauh lebih menyakitkan buat saya." Aku menarik napas panjang, mencoba melapangkan dada yang sesak. "Aku setuju karena aku ingin menjaga apa yang paling dia cintai yaitu Mas Risam dan Keluarganya."

Mas Risam melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak yang sopan. Wajahnya yang tegang perlahan melunak menjadi raut penuh haru dan hormat.

"Azahra," bisiknya pelan. "Saya berjanji, jika pernikahan ini benar-benar terjadi, saya tidak akan memintamu menjadi orang lain. Tetaplah menjadi Azahra. Kita akan menjaga Aiza bersama-sama. Saya akan menghormatimu, bukan hanya sebagai istri, tapi sebagai penyelamat kami berdua."

Di bawah langit rumah sakit yang kelabu, sebuah kesepakatan pahit ini tercapai. Kami memutuskan untuk saling menggenggam, bukan karena jatuh cinta, tapi karena kami mencintai orang yang sama, dan kami tidak sanggup melihatnya hancur lebih jauh lagi.

Lila Oktavia

Thanks sudah sejauh ini teman-teman... Aku bakal seneng banget kalo kalian mau ninggalin jejak buat support aku, love u all.

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SENDIAKALA   20 PERNIKAHAN

    Aku duduk di sudut kamar rias, ruangan kecil yang dulu jadi kamar baca Bapak, sekarang diubah sebentar untuk hari ini. Matanya merah karena menahan air mata, tapi wajahnya tetap penuh cinta saat melihat aku yang sedang memakai gaun putih sederhana yang dijahit sendiri oleh tetangga. Saat aku menyusun jilbab dengan hati-hati di depan cermin bekas yang selalu ada di kamar itu, ibu mendekat dan mengambil tanganku dengan lembut.Kulit tangannya yang kasar akibat kerja keras merawat kebun dan menjahit untuk menutupi kebutuhan keluarga menyentuh kulit aku yang lembut. Ibu menatapku, lalu melihat ke arah sebuah vas bunga mawar yang hanya ada satu kuntumnya, berdiri sendirian di atas meja rias. “Bunga cantik harus tumbuh di tanah yang subur, dengan akar yang kuat dan ruang yang cukup untuk berkembang,” ucap ibu perlahan, sambil menyentuh kelopak bunga itu dengan lembut. Aku mengerti makna yang tersirat, setiap bunga layak mendapatkan tempatnya sendiri, bukan harus berbagi ruang dengan yang la

  • SENDIAKALA   19 MAHKAM BAPAK

    Langit pagi itu terbentang cerah namun tidak terlalu terik, seolah alam juga memahami bahwa hari ini bukanlah hari untuk keceriaan yang berlebihan. Udara di komplek pemakaman terasa dingin dan bersih, membawa aroma tanah basah yang baru saja disiram embun pagi dan daun-daun tua yang mengering di atas rerumputan. Aroma itu mengiringi langkah kami saat berjalan pelan menuju persinggahan terakhir Bapak, tempat di mana dia telah beristirahat damai selama tiga tahun terakhir. Aku berjalan paling depan bersama ibu, tangan kami saling menggenggam erat. Ibu tidak banyak bicara, tapi sentuhan tangannya yang hangat sudah cukup untuk memberikan kekuatan. Di belakang kami mengikuti Mbak Aiza dan Mas Abrisam, masing-masing membawa sekotak bunga. Mbak Aiza membawa bunga melati putih, sedangkan Mas Abrisam memilih bunga kenanga yang selalu jadi kesukaan Bapak. Langkah kami pelan namun mantap, dan aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak membawa beban pikiran apapun selain doa dan rasa rindu yang mend

  • SENDIAKALA   18 GAUN DAN SYARAT

    Mobil mewah warna hitam mengendap tepat di depan sebuah bangunan bertingkat tinggi dengan dinding berlapis kaca tembus pandang. Pintu depan yang menjulang tinggi dibingkai dengan ornamen emas yang mengkilap, di atasnya terpampang nama butik bergaya kaligrafi: “Bunga Pengantin Atelier Pengantin Eksklusif”. Huruf-huruf timbulnya seolah terbuat dari potongan cahaya yang menyala setiap kali terkena sinar matahari siang hari. Begitu sopir membuka pintu mobil, udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyergap wajahku, membawa aroma campuran bunga mawar putih dan parfum mahal yang tidak aku kenal namanya. Lantai marmer putih seperti salju mengilap sempurna, memantulkan bayangan langkah kaki kami dengan jelas. Di langit-langit yang tinggi, lampu gantung kristal besar dengan ribuan potongan kaca berkilauan, cahayanya jatuh berlapis-lapis seperti hujan cahaya yang memercik ke seluruh sudut ruangan. Di sisi kanan dan kiri lorong utama, deretan gaun pengantin berjajar rapi di balik rak kaca

  • SENDIAKALA   17 PANTAI

    Di pagi yang sepi, usai shalat subuh terlaksana dengan khidmat, aku memutuskan untuk keluar tanpa pamit panjang pada ibu. Langkah ku terasa berat namun juga ingin terbang bebas, seperti burung yang lama terkurung dalam sangkar. Ibu yang sedang membersihkan sajadah pun hanya mengangguk perlahan, matanya yang penuh pengertian tahu betul, aku perlu angin dan kesendirian untuk sekadar menyelesaikan pikiran yang terlalu penuh dengan beban yang baru saja kujanjikan. Pantai pagi itu benar-benar sepi, hanya suara ombak yang bergulung perlahan seperti bisikan alam yang tidak pernah lelah bercerita. Langit yang masih pucat kebiruan memantulkan bayangannya pada permukaan air yang tenang, ombak bergulung malas seolah tidak ingin mengganggu kedamaian pagi. Angin laut yang membawa aroma garam dan rumput laut mengusap wajah ku lembut, seperti tangan lama yang mengenal setiap lekukan di wajah ku dan tahu cara menenangkannya. Aku melangkah menuju bebatuan besar yang selalu jadi tempat persembunyian h

  • SENDIAKALA   16 AZAHRA SAKIT

    Perlahan-lahan aku mencoba membuka mata, meski pandanganku masih kabur dan berat. Cahaya lampu yang teramat terang membuatku memicing, namun di balik silau itu aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Kulihat Ibu. Awalnya kukira itu hanya khayalanku, sisa dari kelelahan dan kepalaku yang masih terasa berat. Tetapi ketika tangan itu membelai rambutku, hangat dan penuh kasih, aku tersadar bahwa ini nyata. “Ibu?” "Iya, sayang. Ini ibu.” Suara itu menenangkan sesuatu di dadaku yang sejak lama terasa runtuh. Belaiannya membuatku ingin menangis, namun aku terlalu lemah bahkan untuk itu. Aku mencoba mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Mataku menyapu sekeliling. Banyak perlengkapan rumah sakit terpasang di tubuhku. Selang, infus, alat monitor, semuanya menegaskan bahwa tubuh ini benar-benar telah menyerah. “Kamu istirahat dulu, Nduk,” kata Ibu lembut. “Ibu akan di sini menjaga kamu.” “Azahra enggak apa-apa, Bu,” kataku sambil memaksakan senyum kecil, menyembunyik

  • SENDIAKALA   15 MENJAWAB USTADZ ALIF

    Ruang ndalem sudah terisi oleh Abah dan Umi yang duduk bersamaku. Kami menunggu kedatangan Ustadz Alif. Tanganku saling menggenggam di pangkuan, dingin dan kaku. Sejak tadi dadaku terasa sempit. Firasatku tidak baik, namun bukan tentang penolakan yang hendak ku sampaikan. Ada rasa lain yang mengganjal, seperti bayangan sesuatu yang akan terulang kembali. Seolah takdir sedang berjalan menuju arah yang sudah kukenal, hanya saja aku belum tahu bentuknya. Berkali-kali aku berdoa dalam hati. Menepis segala keburukan yang melintas di hati dan otakku. Tentang Ustadz Alif, tentang keluarga di pesantren ini. Semoga semuanya baik-baik saja. Dan semoga jawabanku nanti tidak menjatuhkan nama Abah dan Umi. “Apapun jawabanmu, kami paham,” ucap Umi lembut sambil menggenggam tanganku yang dingin. “Kami tahu Azahra melakukan ini karena Allah.” Aku menunduk. Barangkali Umi benar-benar mengerti betapa risaunya hatiku sekarang. Tiba-tiba ponsel Abah berdering. Pikiranku kembali berkecamuk sebab s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status