MasukLangit pagi itu cerah, tapi enggan terlalu terang. Udara di pemakaman terasa dingin dan bersih, membawa aroma tanah basah dan daun-daun tua yang mengiringi kami menuju persinggahan bapak. Aku berjalan paling depan bersama ibu, memimpin jalan. Di belakangku ada mbak Aiza dan juga mas Risam. Masing-masing dari kami membawa sekotak bunga sebagai hadiah untuk bapak. Langkah kami pelan, tapi akan ku pastikan tidak ada beban yang kubawa. Aku hanya ingin membawa doa di sini. Makam bapaknya terletak di bawah pohon ketapang besar. Batu nisannya sederhana, tanpa ukiran berlebihan, seperti hidup bapak yang tak pernah ingin menonjolkan apa pun selain ketulusan. Aku berjongkok perlahan. Tak ada kata yang tersampaikan, hanya saja aku sibuk menaburkan bunga di atas mahkam bapak, begitu juga yang lain. Setelahnya kami berdoa yang di pimpin oleh mas Risam. Doa telah usai, tapi belum dengan kunjunganku. Kupandangi jisan yang terdapat nama lengkap bapak di sana. Mbak Aiza dan Mas Risam berdiri s
Mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan tinggi berlapis kaca. Pintu depannya menjulang dengan bingkai emas, di atasnya terpampang nama butik dengan huruf timbul berkilau, seperti potongan cahaya yang disusun menjadi kata. Begitu pintu dibuka, udara sejuk langsung menyergap wajahku, membawa aroma bunga dan parfum mahal. Lantai marmer putih mengilap memantulkan bayangan langkah mereka. Lampu gantung kristal tergantung di langit-langit, cahayanya jatuh berlapis-lapis seperti hujan cahaya. Di sisi kanan dan kiri, deretan gaun pengantin berjajar rapi di balik kaca. Putih, gading, perak, dengan payet dan bordir halus yang berkilau setiap kali lampu menyentuhnya. Beberapa manekin berdiri anggun, seolah pengantin yang membeku dalam waktu. Seorang staf butik menyambut dengan senyum sopan. “Selamat datang, Mbak Aiza, Mas Risam. Silakan.” Mereka dipersilakan masuk ke ruangan fitting pribadi. Ruangan itu lebih sunyi, lebih mewah. Dindingnya berlapis kain krem lembut, kursi-kursi empuk b
Di pagi yang sepi, usai slat subuh terlaksanakan aku pergi tanpa pamit panjang pada ibu. Ibu pun tau aku membutuhkan angin untuk sekedar ketenangan. Pantai pagi itu juga sangat sepi. Langit pucat memantul pada airnya yang meng gelombang, ombak bergulung malas, dan angin mengusap wajahku seperti tangan lama yang menenangkan. Aku berdiri di atas bebatuan besar, memandangi laut tempat yang selalu Bapak pilih ketika pikiranku terlalu penuh. Bapak bilang jika laut tidak akan menolak cerita siapapun. Mengenang hal itu aku mengikir senyum kecil, meski mataku basah. Rasanya sudah cukup lama aku berada di sini, perlahan bisa kulihat matahari sedang mengintipku di seberang sana. Ia membiaskan sinar kuning yang dapat menyorotkan kehangatan ke tubuhku. “Masih suka datang ke sini?” Ada suara pria di belakangku. Aku menoleh, dan dapat ku jumpai Wangsa Satya di sana. "Satya?” Aku berdiri. “Sejak kapan di kampung?” Ia tersenyum tipis. “Baru sampai semalam.” Aku menatapnya sejenak. Angin
Perlahan-lahan aku mencoba membuka mata, meski pandanganku masih kabur dan berat. Cahaya lampu yang teramat terang membuatku memicing, namun di balik silau itu aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Kulihat Ibu. Awalnya kukira itu hanya khayalanku, sisa dari kelelahan dan kepalaku yang masih terasa berat. Tetapi ketika tangan itu membelai rambutku, hangat dan penuh kasih, aku tersadar bahwa ini nyata. “Ibu?” "Iya, sayang. Ini ibu.” Suara itu menenangkan sesuatu di dadaku yang sejak lama terasa runtuh. Belaiannya membuatku ingin menangis, namun aku terlalu lemah bahkan untuk itu. Aku mencoba mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Mataku menyapu sekeliling. Banyak perlengkapan rumah sakit terpasang di tubuhku. Selang, infus, alat monitor, semuanya menegaskan bahwa tubuh ini benar-benar telah menyerah. “Kamu istirahat dulu, Nduk,” kata Ibu lembut. “Ibu akan di sini menjaga kamu.” “Azahra enggak apa-apa, Bu,” kataku sambil memaksakan senyum kecil, menyembunyik
Ruang ndalem sudah terisi oleh Abah dan Umi yang duduk bersamaku. Kami menunggu kedatangan Ustadz Alif. Tanganku saling menggenggam di pangkuan, dingin dan kaku. Sejak tadi dadaku terasa sempit. Firasatku tidak baik, namun bukan tentang penolakan yang hendak ku sampaikan. Ada rasa lain yang mengganjal, seperti bayangan sesuatu yang akan terulang kembali. Seolah takdir sedang berjalan menuju arah yang sudah kukenal, hanya saja aku belum tahu bentuknya. Berkali-kali aku berdoa dalam hati. Menepis segala keburukan yang melintas di hati dan otakku. Tentang Ustadz Alif, tentang keluarga di pesantren ini. Semoga semuanya baik-baik saja. Dan semoga jawabanku nanti tidak menjatuhkan nama Abah dan Umi. “Apapun jawabanmu, kami paham,” ucap Umi lembut sambil menggenggam tanganku yang dingin. “Kami tahu Azahra melakukan ini karena Allah.” Aku menunduk. Barangkali Umi benar-benar mengerti betapa risaunya hatiku sekarang. Tiba-tiba ponsel Abah berdering. Pikiranku kembali berkecamuk sebab s
Aku pulang pagi ini. Di antarkan oleh Mbak Aiza dan Mas Risam yang sangat bersikeras untuk mengantarku pulang, meski sejak awal aku menolak. Aku merasa mampu pulang sendiri, dan lebih dari itu aku merasa perlu. Namun mereka selalu memiliki alasan yang tak sanggup ku tepis, dan kekhawatiran dari ibu membuatku setuju. Akhirnya aku hanya diam, menyerah pada keputusan yang bukan milikku sepenuhnya. Mobil melaju menyusuri kota. Gedung-gedung tinggi berbaris di tepi jalan, reklame warna-warni berseliweran di antara deru kendaraan. Semua tampak hidup, ramai, dan bergerak cepat. Namun tak satu pun dari itu benar-benar mampu mencuri perhatianku.Pikiranku terlalu penuh. Ia berlarian ke masa depan yang belum tiba, lalu tiba-tiba kembali ke masa lalu—ke Umi dan Abah yang selalu mengirimkan ku pesan mengenai lamaran dari ustadz Alif. Setelah sampai di kampung nanti, aku tahu, aku harus ke pesantren. Aku harus menjawab lamaran Ustadz Alif.Entah sebagai apa. Sebagai seorang perempuan yang sudah b







