Home / Romansa / SENDIAKALA / 13 TANGIS DUA PIHAK

Share

13 TANGIS DUA PIHAK

Author: Lila Oktavia
last update Last Updated: 2026-01-03 20:25:09

Malam itu, setelah acara pertemuan keluarga besar Mba Aiza dan Mas Risam. Ibu mendadak berubah menjadi ruang yang asing dan dingin. Ibu hanya duduk mematung di pinggir tempat tidur, menatap kosong ke arah lantai. Wajahnya pucat, guratan lelahnya tampak lebih dalam dari biasanya.

Aku mendekat dengan langkah ragu, mencoba meredam gemuruh di dadaku sendiri. Aku tahu apa yang sedang menggerogoti pikiran Ibu. Beliau tidak sedang marah, beliau sedang berduka atas masa depan anak gadisnya yang ia rasa telah mati sebelum berkembang.

Kamu gadis yang pintar, bahkan banyak lamaran dari anak-anak priayi yang datang kepadamu," suara Ibu bergetar, parau karena menahan sesak. "Tapi kenapa kamu malah memutuskan menjadi istri kedua dari majikan Ibu sendiri? Kenapa kamu memilih jalan yang begitu terjal?"

"Bu..." Aku mencoba meraih tangan Ibu namun dengan cekatan Ibu menarik tangannya menjauh. Ia menolak kusentuh, seolah sentuhanku justru akan menambah perih lukanya.

"Kamu anak Ibu satu-satunya, Nduk. Ibu ndak bisa... ndak kuat Ibu melihat semua ini," Ibu terisak, napasnya tersenggal-senggal. "Tidak ada wanita yang mau diduakan, apalagi dinomorduakan. Pernikahan itu sakral, sekali seumur hidup. Bagaimana bisa kamu mengambil keputusan yang menghancurkan impianmu sendiri?"

Kalimat Ibu menghujam jantungku. Memang benar, aku telah mengkhianati gadis kecil yang dulu bermimpi tentang pangeran berkuda. Air mataku jatuh tanpa permisi. Aku segera mengusapnya kasar, aku tidak ingin terlihat lemah di depan wanita yang sudah menghabiskan seluruh hidupnya untuk membesarkanku. Aku yang memilih jalan ini, maka aku harus kuat memikulnya.

"Bu... barangkali ini adalah takdir Tuhan untuk Azahra. Mungkin, inilah cara Azahra membalas semua kebaikan Mbak Aiza. Ingat bu, Azahra bisa sampai sejauh ini juga tak luput karena Mbak Aiza," ucapku dengan suara yang kupaksa untuk tetap tenang.

Mendengar itu, pertahanan Ibu runtuh sepenuhnya. Ia menatapku dengan mata yang basah, lalu tiba-tiba menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Dekapannya begitu erat, seolah ia takut jika ia melepaskannya, aku akan menghilang ditelan nasib. Ibu merapal kata maaf berkali-kali di pundakku. Tangisnya pecah, tumpah di bahuku yang kini harus dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya.

***

Malam menjelang pagi ketika aku terbangun untuk melaksanakan salat tahajud. Udara begitu sunyi, hanya suara detik jam yang seperti berbisik pada gelap. Setelah salam terakhir, entah mengapa langkah kakiku justru berhenti di depan jendela kamar. Tirai tipis tersibak pelan, dan mataku menangkap satu sosok di taman, itu mbak Aiza.

Dia duduk di bangku yang sama persis seperti malam ketika ia pertama kali memintaku untuk menikah dengan Mas Risam. Posisi tubuhnya, arah pandangnya, bahkan gaun rumah yang ia kenakan, semuanya terasa seperti pengulangan dari sebuah kenangan yang belum selesai. Dada ini tiba-tiba terasa sesak. Ada firasat yang tak bisa kuabaikan. Aku meraih selendang lalu melangkah keluar. Rumput masih basah oleh embun, dingin menembus telapak kaki. Mbak Aiza tidak menyadari kehadiranku sampai aku berdiri tepat di sisinya.

“Azahra, kamu terbangun?” Ia terkejut, buru-buru menyeka wajahnya. Mata itu merah, sembab, pucat oleh sesuatu yang tak sempat ia sembunyikan.

“Mbak, kenapa di luar? Udara dingin… nanti Mbak Aiza sakit lagi.”

Ia hanya tersenyum, senyum yang terlalu tipis untuk disebut baik-baik saja. Kepalanya menggeleng pelan, lalu tangannya menepuk bangku di sampingnya, menyuruhku duduk.

Kami terdiam sejenak. Angin malam berdesir di sela-sela daun. Lalu Mbak Aiza menarik napas panjang, seolah mengumpulkan sesuatu dari dalam dadanya yang hampir runtuh.

“Saya sudah mendapatkan tanggal yang cocok untuk pernikahannya, bulan depan, Azahra.” Kalimat itu terdengar begitu sederhana, tapi bagiku seperti palu yang menghantam pelan.

Ia menoleh padaku, matanya berkaca-kaca. “Saya bahagia… Saya bahagia, Zahra…” Namun kalimat itu pecah sebelum selesai. Bahunya bergetar. Tangisnya tumpah tanpa suara, lalu ia memelukku begitu erat, seolah seluruh kekuatannya sedang disimpan di pelukanku.

Aku membeku. Pelukan itu dingin, tapi lebih dingin lagi kenyataan yang menekan dadaku. Ibu benar. Tak ada perempuan yang sungguh-sungguh rela untuk diduakan. Namun ada perempuan-perempuan yang terlalu mencintai keluarganya hingga rela mengorbankan dirinya sendiri.

Mbak Aiza adalah perempuan itu. Di balik tangisnya, aku tahu, kebahagiaannya bukanlah tentang cinta. Ia hanya memilih jalan yang paling sedikit melukai orang-orang yang ia cintai, meski jalan itu harus ia tapaki sendirian, dalam diam, dalam luka yang tak akan pernah benar-benar sembuh.

Tangis Mbak Aiza perlahan mereda. Ia masih memelukku, seolah jika aku bergerak sedikit saja, dunia yang ia bangun dengan susah payah akan runtuh lagi. Aku menunggu sampai napasnya mulai teratur, sampai bahunya tidak lagi berguncang.

Kemudian aku bicara, suaraku nyaris seperti bisikan. “Mbak… setelah ini… Azahra ingin pulang ke rumah.”

Ia mengangkat wajahnya perlahan. Matanya menatapku dalam, seperti mencoba memahami arti kalimat itu.

“Tidak baik tinggal serumah dengan yang bukan mahram. Semakin lama Azahra di sini, semakin berat amanah yang Azahra pikul. Azahra takut melanggar batas yang seharusnya di jaga.”

Hening. Angin berdesir lebih kencang, membawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Mbak Aiza menunduk. Jarinya menggenggam ujung bajuku erat, seolah menahan kepergianku bahkan sebelum aku benar-benar pergi.

“Azahra…” Ia menghela napas panjang, lalu menatapku lagi.

“Kalau kamu pulang… jangan mengingkari janji yang sudah kamu buat.”

Dadaku mengeras, “Mbak…”

“Kamu sudah berjanji akan menikah dengan Mas Risam.” Nada suaranya tidak memerintah, tidak memaksa. Hanya lelah. Sangat lelah. “Janji itu satu-satunya yang membuat saya sanggup bertahan sampai hari ini, Azahra."

Aku terdiam. Di hadapanku bukan seorang perempuan yang sedang meminta. Melainkan seorang perempuan yang sedang menggenggam sisa-sisa hidupnya. Matanya berkaca lagi, tapi kali ini ia menahannya. Ia tersenyum, senyum yang ku pelajari sebagai senyum orang-orang yang sudah terlalu sering kalah pada keadaan.

Aku menunduk. Hatiku bergetar, bukan karena ragu pada janji, melainkan karena beratnya harga sebuah pengorbanan yang tak pernah diminta tapi harus ditanggung. "Haram hukumnya mengingkari janji yang sudah dibuat."

Mbak Aiza menatapku dalam, kemudian memelukku sekali lagi, lebih lama, lebih erat. Seolah-olah ingin menitipkan seluruh hidupnya ke dalam dada ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SENDIAKALA   20 PERNIKAHAN

    Aku duduk di sudut kamar rias, ruangan kecil yang dulu jadi kamar baca Bapak, sekarang diubah sebentar untuk hari ini. Matanya merah karena menahan air mata, tapi wajahnya tetap penuh cinta saat melihat aku yang sedang memakai gaun putih sederhana yang dijahit sendiri oleh tetangga. Saat aku menyusun jilbab dengan hati-hati di depan cermin bekas yang selalu ada di kamar itu, ibu mendekat dan mengambil tanganku dengan lembut.Kulit tangannya yang kasar akibat kerja keras merawat kebun dan menjahit untuk menutupi kebutuhan keluarga menyentuh kulit aku yang lembut. Ibu menatapku, lalu melihat ke arah sebuah vas bunga mawar yang hanya ada satu kuntumnya, berdiri sendirian di atas meja rias. “Bunga cantik harus tumbuh di tanah yang subur, dengan akar yang kuat dan ruang yang cukup untuk berkembang,” ucap ibu perlahan, sambil menyentuh kelopak bunga itu dengan lembut. Aku mengerti makna yang tersirat, setiap bunga layak mendapatkan tempatnya sendiri, bukan harus berbagi ruang dengan yang la

  • SENDIAKALA   19 MAHKAM BAPAK

    Langit pagi itu terbentang cerah namun tidak terlalu terik, seolah alam juga memahami bahwa hari ini bukanlah hari untuk keceriaan yang berlebihan. Udara di komplek pemakaman terasa dingin dan bersih, membawa aroma tanah basah yang baru saja disiram embun pagi dan daun-daun tua yang mengering di atas rerumputan. Aroma itu mengiringi langkah kami saat berjalan pelan menuju persinggahan terakhir Bapak, tempat di mana dia telah beristirahat damai selama tiga tahun terakhir. Aku berjalan paling depan bersama ibu, tangan kami saling menggenggam erat. Ibu tidak banyak bicara, tapi sentuhan tangannya yang hangat sudah cukup untuk memberikan kekuatan. Di belakang kami mengikuti Mbak Aiza dan Mas Abrisam, masing-masing membawa sekotak bunga. Mbak Aiza membawa bunga melati putih, sedangkan Mas Abrisam memilih bunga kenanga yang selalu jadi kesukaan Bapak. Langkah kami pelan namun mantap, dan aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak membawa beban pikiran apapun selain doa dan rasa rindu yang mend

  • SENDIAKALA   18 GAUN DAN SYARAT

    Mobil mewah warna hitam mengendap tepat di depan sebuah bangunan bertingkat tinggi dengan dinding berlapis kaca tembus pandang. Pintu depan yang menjulang tinggi dibingkai dengan ornamen emas yang mengkilap, di atasnya terpampang nama butik bergaya kaligrafi: “Bunga Pengantin Atelier Pengantin Eksklusif”. Huruf-huruf timbulnya seolah terbuat dari potongan cahaya yang menyala setiap kali terkena sinar matahari siang hari. Begitu sopir membuka pintu mobil, udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyergap wajahku, membawa aroma campuran bunga mawar putih dan parfum mahal yang tidak aku kenal namanya. Lantai marmer putih seperti salju mengilap sempurna, memantulkan bayangan langkah kaki kami dengan jelas. Di langit-langit yang tinggi, lampu gantung kristal besar dengan ribuan potongan kaca berkilauan, cahayanya jatuh berlapis-lapis seperti hujan cahaya yang memercik ke seluruh sudut ruangan. Di sisi kanan dan kiri lorong utama, deretan gaun pengantin berjajar rapi di balik rak kaca

  • SENDIAKALA   17 PANTAI

    Di pagi yang sepi, usai shalat subuh terlaksana dengan khidmat, aku memutuskan untuk keluar tanpa pamit panjang pada ibu. Langkah ku terasa berat namun juga ingin terbang bebas, seperti burung yang lama terkurung dalam sangkar. Ibu yang sedang membersihkan sajadah pun hanya mengangguk perlahan, matanya yang penuh pengertian tahu betul, aku perlu angin dan kesendirian untuk sekadar menyelesaikan pikiran yang terlalu penuh dengan beban yang baru saja kujanjikan. Pantai pagi itu benar-benar sepi, hanya suara ombak yang bergulung perlahan seperti bisikan alam yang tidak pernah lelah bercerita. Langit yang masih pucat kebiruan memantulkan bayangannya pada permukaan air yang tenang, ombak bergulung malas seolah tidak ingin mengganggu kedamaian pagi. Angin laut yang membawa aroma garam dan rumput laut mengusap wajah ku lembut, seperti tangan lama yang mengenal setiap lekukan di wajah ku dan tahu cara menenangkannya. Aku melangkah menuju bebatuan besar yang selalu jadi tempat persembunyian h

  • SENDIAKALA   16 AZAHRA SAKIT

    Perlahan-lahan aku mencoba membuka mata, meski pandanganku masih kabur dan berat. Cahaya lampu yang teramat terang membuatku memicing, namun di balik silau itu aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Kulihat Ibu. Awalnya kukira itu hanya khayalanku, sisa dari kelelahan dan kepalaku yang masih terasa berat. Tetapi ketika tangan itu membelai rambutku, hangat dan penuh kasih, aku tersadar bahwa ini nyata. “Ibu?” "Iya, sayang. Ini ibu.” Suara itu menenangkan sesuatu di dadaku yang sejak lama terasa runtuh. Belaiannya membuatku ingin menangis, namun aku terlalu lemah bahkan untuk itu. Aku mencoba mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Mataku menyapu sekeliling. Banyak perlengkapan rumah sakit terpasang di tubuhku. Selang, infus, alat monitor, semuanya menegaskan bahwa tubuh ini benar-benar telah menyerah. “Kamu istirahat dulu, Nduk,” kata Ibu lembut. “Ibu akan di sini menjaga kamu.” “Azahra enggak apa-apa, Bu,” kataku sambil memaksakan senyum kecil, menyembunyik

  • SENDIAKALA   15 MENJAWAB USTADZ ALIF

    Ruang ndalem sudah terisi oleh Abah dan Umi yang duduk bersamaku. Kami menunggu kedatangan Ustadz Alif. Tanganku saling menggenggam di pangkuan, dingin dan kaku. Sejak tadi dadaku terasa sempit. Firasatku tidak baik, namun bukan tentang penolakan yang hendak ku sampaikan. Ada rasa lain yang mengganjal, seperti bayangan sesuatu yang akan terulang kembali. Seolah takdir sedang berjalan menuju arah yang sudah kukenal, hanya saja aku belum tahu bentuknya. Berkali-kali aku berdoa dalam hati. Menepis segala keburukan yang melintas di hati dan otakku. Tentang Ustadz Alif, tentang keluarga di pesantren ini. Semoga semuanya baik-baik saja. Dan semoga jawabanku nanti tidak menjatuhkan nama Abah dan Umi. “Apapun jawabanmu, kami paham,” ucap Umi lembut sambil menggenggam tanganku yang dingin. “Kami tahu Azahra melakukan ini karena Allah.” Aku menunduk. Barangkali Umi benar-benar mengerti betapa risaunya hatiku sekarang. Tiba-tiba ponsel Abah berdering. Pikiranku kembali berkecamuk sebab s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status