LOGIN"Tujuan kami mengundang kalian ke mari untuk memberitahukan jika Mas Risam akan menikah dengan Azahra." Suara Mbak Aiza terdengar lantang, bergema di antara pilar-pilar ruang tamu yang megah itu. Di sampingnya, aku hanya bisa tertunduk dalam-dalam. Rasanya seperti seluruh berat atap rumah ini mendadak runtuh dan menimpa pundakku. Aku tak berani mengangkat wajah, apalagi menatap satu per satu anggota keluarga besar Mas Risam yang duduk mengitari kami. Iya keluarga Mas Risam, mereka yang kemarin baru saja diperkenalkan Mbak Aiza dan Ibu kepadaku sebagai orang-orang terpandang.
"Menikah?" Celetukan itu menyambar seperti kilat di tengah keheningan yang mencekam. Aku memberanikan diri sedikit mengangkat kepalaku, kulihat mereka semua menatap kami dengan tatapan yang sulit diartikan; ada keterkejutan, ketidaksukaan, dan tanda tanya besar yang menuntut jawaban instan.
Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Aku bisa merasakan tatapan mereka bukan hanya tertuju pada Mas Risam atau Mbak Aiza, tapi menghujam tepat ke arahku. Aku, yang bagi mereka mungkin hanyalah anak dari perempuan yang setiap hari membersihkan rumah mereka, kini tiba-tiba berdiri sejajar di ambang pintu masuk ke dalam lingkaran keluarga mereka.
"Aiza, kamu sadar apa yang kamu ucapkan?" suara salah satu bibi Mas Risam memecah kesunyian, nadanya tajam dan penuh penekanan. "Azahra ini... dia anak pembantumu, kan? Bagaimana mungkin kamu berpikir untuk membawanya masuk ke dalam silsilah keluarga kita sebagai seorang istri?"
Kalimat itu bagai silet yang mengiris harga diriku. Aku meremas ujung gamisku kuat-kuat, berusaha menahan air mata yang mulai mendesak keluar. Di ruangan ini, aku merasa statusku sebagai 'adik' yang selama ini disematkan Mbak Aiza mendadak luntur, menyisakan jarak sosial yang begitu lebar dan nyata.
Mbak Aiza semakin erat menggenggam tanganku, seolah ia bisa merasakan badai yang sedang mengamuk di dalam dadaku. Ia tetap tegak, menatap keluarganya tanpa ragu sedikit pun, seolah sudah siap mempertaruhkan segalanya demi keputusan yang ia yakini benar ini. Sementara di sisi lain, Mas Risam tetap diam dengan wajah yang teramat kaku, membiarkan pengumuman itu menjadi bola panas yang membakar siapa pun di ruangan tersebut.
"Kenapa kamu mempermasalahkan status, Nindia? Kamu lupa jika suamimu dahulu hanya seorang OB di perusahaan? Jika saja tidak karena bantuan suami saya, suamimu tidak akan menjadi seperti sekarang." Suara Ibu mertua Mbak Aiza tenang, namun setiap katanya memiliki bobot yang mampu meruntuhkan kepercayaan diri siapa pun yang mendengarnya. Kalimat itu seketika membungkam bibir Bibi Nindia. Ia tertunduk, wajahnya memerah, dan tak lagi berani mengeluarkan sepatah kata pun. Ruang tamu yang tadi terasa penuh dengan bisik-bisik ketidaksukaan, mendadak senyap total.
Ibu mertua Mbak Aiza mengedarkan pandangan ke seluruh anggota keluarga dengan kewibawaan yang tak tergoyahkan. Beliau adalah pilar di rumah ini, dan suaranya adalah hukum yang sulit untuk dibantah. "Ini sudah menjadi keputusan keluarga mereka. Jelas, ini sudah dibicarakan baik-baik dan melalui banyak pertimbangan. Maka sebagai keluarga yang baik, kita dukung saja apa yang menjadi keputusan mereka," tegas beliau, menutup perjamuan malam itu dengan sebuah pernyataan final yang tak menyisakan celah untuk negosiasi.
Aku menarik napas panjang, mencoba melepaskan beban yang sedari tadi menyumbat dadaku. Meskipun restu itu terdengar seperti sebuah perlindungan, aku tahu bahwa perjuanganku baru saja dimulai. Di balik kata 'dukungan' itu, ada tanggung jawab besar yang kini terpaku di pundakku.
"Kalian tidak lagi anak remaja yang segalanya harus di atur. Maka saya setuju jika memang benar pernikahan ini tidak memberatkan salah satu pihak." Ayah mertua mbak Aiza angkat bicara.
"Oke. Karena semua sudah sepakat, Mama ingin pernikahan ini dipersiapkan dengan sebaik mungkin," ujar Ibu mertua mbak Aiza sambil membetulkan letak kacamata bacanya. "Mama sudah memikirkan gedung, katering terbaik, dan daftar tamu yang harus kita undang. Ini bukan sekadar pernikahan biasa, ini menyangkut nama baik keluarga kita."
Aku melirik Mbak Aiza, lalu beralih ke Mas Risam, namun keduanya tampak menyerahkan segalanya pada Ibu besar. Mendengar kata 'gedung' dan 'nama baik' membuat dadaku kembali berdenyut karena cemas. Bayangan kerumunan orang yang menatapku dengan penuh selidik, seperti yang terjadi di ruang tamu tadi, membuatku merasa tercekik.
"Maaf, Ibu..." suaraku sedikit bergetar, memecah rencana megah yang sedang dipaparkan.
Ibu Besar mendongak, menatapku lewat bingkai kacamatanya. "Ya, Azahra? Ada yang ingin kamu sampaikan?"
"Em... Sebelumnya saya sangat berterima kasih karena Ibu mau mengatur semuanya. Tapi..." aku menjeda, menarik napas panjang. "Jika diperbolehkan, saya menginginkan pernikahan yang sangat sederhana saja. Cukup akad nikah di masjid atau di rumah ini, dengan dihadiri keluarga inti."
Ibu Besar mengerutkan kening, tampak terkejut dengan permintaanku. "Azahra, pernikahan adalah momen sekali seumur hidup. Kamu tidak ingin merayakannya dengan layak?"
"Bukan begitu, Bu," jawabku sehalus mungkin. "Bagi saya, esensi dari pernikahan ini adalah niat dan tanggung jawabnya, bukan kemeriahannya. Lagipula, kondisi Mbak Aiza masih memerlukan banyak istirahat. Saya tidak ingin Mbak Aiza kelelahan karena acara yang besar. Saya hanya ingin pernikahan ini terasa tenang... dan khidmat."
Mas Risam menoleh ke arahku, ada sorot apresiasi di matanya yang letih. Sementara Mbak Aiza tersenyum lemah, seolah ia mengerti bahwa kesederhanaan adalah cara terbaik bagiku untuk melindungi diri dari tekanan sosial yang baru saja kualami.
Ibu Besar terdiam sejenak, tampak menimbang-nimbang antara egonya sebagai nyonya rumah dan permohonan tulus dari calon menantunya. Ruangan itu kembali hening, menunggu keputusan dari sosok wanita yang memegang kendali penuh atas rencana masa depan kami.
Ibu Besar terdiam cukup lama, matanya yang tajam menatapku seolah sedang menyelami apa yang sebenarnya ada di balik permintaanku. Keheningan itu terasa begitu berat, hingga detak jam dinding di ruang tengah pun terdengar seperti dentuman. "Baiklah, Azahra. Jika itu memang keinginanmu dan kamu merasa lebih nyaman dengan cara itu."
Ada kelegaan luar biasa yang menjalar di sekujur tubuhku. Malam itu, di bawah cahaya lampu ruang tengah yang hangat, rancangan masa depanku mulai dipahat. Sebuah pernikahan yang lahir dari rasa iba, utang budi, dan pengabdian. Tidak ada pesta pora, tidak ada gaun megah yang menyapu lantai. Hanya akan ada janji suci yang diucapkan di hadapan Tuhan. Dan mimpi-mimpiku mengenai pangeran pada dongeng bapak tenggelam pada pahatan ini.
Gimanih ceritanya? Tinggalin kritik dan saran dong ^^
Di pagi yang sepi, usai slat subuh terlaksanakan aku pergi tanpa pamit panjang pada ibu. Ibu pun tau aku membutuhkan angin untuk sekedar ketenangan. Pantai pagi itu juga sangat sepi. Langit pucat memantul pada airnya yang meng gelombang, ombak bergulung malas, dan angin mengusap wajahku seperti tangan lama yang menenangkan. Aku berdiri di atas bebatuan besar, memandangi laut tempat yang selalu Bapak pilih ketika pikiranku terlalu penuh. Bapak bilang jika laut tidak akan menolak cerita siapapun. Mengenang hal itu aku mengikir senyum kecil, meski mataku basah. Rasanya sudah cukup lama aku berada di sini, perlahan bisa kulihat matahari sedang mengintipku di seberang sana. Ia membiaskan sinar kuning yang dapat menyorotkan kehangatan ke tubuhku. “Masih suka datang ke sini?” Ada suara pria di belakangku. Aku menoleh, dan dapat ku jumpai Wangsa Satya di sana. "Satya?” Aku berdiri. “Sejak kapan di kampung?” Ia tersenyum tipis. “Baru sampai semalam.” Aku menatapnya sejenak. Angin
Perlahan-lahan aku mencoba membuka mata, meski pandanganku masih kabur dan berat. Cahaya lampu yang teramat terang membuatku memicing, namun di balik silau itu aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Kulihat Ibu. Awalnya kukira itu hanya khayalanku, sisa dari kelelahan dan kepalaku yang masih terasa berat. Tetapi ketika tangan itu membelai rambutku, hangat dan penuh kasih, aku tersadar bahwa ini nyata. “Ibu?” "Iya, sayang. Ini ibu.” Suara itu menenangkan sesuatu di dadaku yang sejak lama terasa runtuh. Belaiannya membuatku ingin menangis, namun aku terlalu lemah bahkan untuk itu. Aku mencoba mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Mataku menyapu sekeliling. Banyak perlengkapan rumah sakit terpasang di tubuhku. Selang, infus, alat monitor, semuanya menegaskan bahwa tubuh ini benar-benar telah menyerah. “Kamu istirahat dulu, Nduk,” kata Ibu lembut. “Ibu akan di sini menjaga kamu.” “Azahra enggak apa-apa, Bu,” kataku sambil memaksakan senyum kecil, menyembunyik
Ruang ndalem sudah terisi oleh Abah dan Umi yang duduk bersamaku. Kami menunggu kedatangan Ustadz Alif. Tanganku saling menggenggam di pangkuan, dingin dan kaku. Sejak tadi dadaku terasa sempit. Firasatku tidak baik, namun bukan tentang penolakan yang hendak ku sampaikan. Ada rasa lain yang mengganjal, seperti bayangan sesuatu yang akan terulang kembali. Seolah takdir sedang berjalan menuju arah yang sudah kukenal, hanya saja aku belum tahu bentuknya. Berkali-kali aku berdoa dalam hati. Menepis segala keburukan yang melintas di hati dan otakku. Tentang Ustadz Alif, tentang keluarga di pesantren ini. Semoga semuanya baik-baik saja. Dan semoga jawabanku nanti tidak menjatuhkan nama Abah dan Umi. “Apapun jawabanmu, kami paham,” ucap Umi lembut sambil menggenggam tanganku yang dingin. “Kami tahu Azahra melakukan ini karena Allah.” Aku menunduk. Barangkali Umi benar-benar mengerti betapa risaunya hatiku sekarang. Tiba-tiba ponsel Abah berdering. Pikiranku kembali berkecamuk sebab s
Aku pulang pagi ini. Di antarkan oleh Mbak Aiza dan Mas Risam yang sangat bersikeras untuk mengantarku pulang, meski sejak awal aku menolak. Aku merasa mampu pulang sendiri, dan lebih dari itu aku merasa perlu. Namun mereka selalu memiliki alasan yang tak sanggup ku tepis, dan kekhawatiran dari ibu membuatku setuju. Akhirnya aku hanya diam, menyerah pada keputusan yang bukan milikku sepenuhnya. Mobil melaju menyusuri kota. Gedung-gedung tinggi berbaris di tepi jalan, reklame warna-warni berseliweran di antara deru kendaraan. Semua tampak hidup, ramai, dan bergerak cepat. Namun tak satu pun dari itu benar-benar mampu mencuri perhatianku.Pikiranku terlalu penuh. Ia berlarian ke masa depan yang belum tiba, lalu tiba-tiba kembali ke masa lalu—ke Umi dan Abah yang selalu mengirimkan ku pesan mengenai lamaran dari ustadz Alif. Setelah sampai di kampung nanti, aku tahu, aku harus ke pesantren. Aku harus menjawab lamaran Ustadz Alif.Entah sebagai apa. Sebagai seorang perempuan yang sudah b
Malam itu, setelah acara pertemuan keluarga besar Mba Aiza dan Mas Risam. Ibu mendadak berubah menjadi ruang yang asing dan dingin. Ibu hanya duduk mematung di pinggir tempat tidur, menatap kosong ke arah lantai. Wajahnya pucat, guratan lelahnya tampak lebih dalam dari biasanya. Aku mendekat dengan langkah ragu, mencoba meredam gemuruh di dadaku sendiri. Aku tahu apa yang sedang menggerogoti pikiran Ibu. Beliau tidak sedang marah, beliau sedang berduka atas masa depan anak gadisnya yang ia rasa telah mati sebelum berkembang. Kamu gadis yang pintar, bahkan banyak lamaran dari anak-anak priayi yang datang kepadamu," suara Ibu bergetar, parau karena menahan sesak. "Tapi kenapa kamu malah memutuskan menjadi istri kedua dari majikan Ibu sendiri? Kenapa kamu memilih jalan yang begitu terjal?" "Bu..." Aku mencoba meraih tangan Ibu namun dengan cekatan Ibu menarik tangannya menjauh. Ia menolak kusentuh, seolah sentuhanku justru akan menambah perih lukanya. "Kamu anak Ibu satu-satunya,
"Tujuan kami mengundang kalian ke mari untuk memberitahukan jika Mas Risam akan menikah dengan Azahra." Suara Mbak Aiza terdengar lantang, bergema di antara pilar-pilar ruang tamu yang megah itu. Di sampingnya, aku hanya bisa tertunduk dalam-dalam. Rasanya seperti seluruh berat atap rumah ini mendadak runtuh dan menimpa pundakku. Aku tak berani mengangkat wajah, apalagi menatap satu per satu anggota keluarga besar Mas Risam yang duduk mengitari kami. Iya keluarga Mas Risam, mereka yang kemarin baru saja diperkenalkan Mbak Aiza dan Ibu kepadaku sebagai orang-orang terpandang."Menikah?" Celetukan itu menyambar seperti kilat di tengah keheningan yang mencekam. Aku memberanikan diri sedikit mengangkat kepalaku, kulihat mereka semua menatap kami dengan tatapan yang sulit diartikan; ada keterkejutan, ketidaksukaan, dan tanda tanya besar yang menuntut jawaban instan.Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Aku bisa merasakan tatapan mereka bukan hanya tertuju pada Mas Risam atau Mbak Aiza, t







