"Brak!" Bu Neila menghantam meja dengan keras, lalu langsung berdiri.Pada waktu yang sama, aku juga akhirnya mengeluarkan suara, "Itu dia!""Dokter Raisa, apa kamu yakin?" Pak Sandy juga terus menatap setiap gerak-gerik Galen yang ada di seberang. Wajah Pak Sandy tampak sangat muram. Ketika Bu Neila disinggung dengan kata-kata Galen, Pak Sandy tampak mengerutkan kening, seakan ingin segera pergi ke sana.Ketika mendengar suaraku, Pak Sandy menghentikan langkahnya, lalu bertanya padaku lagi, "Bagaimana kamu membuat penilaian itu?""Suaranya." Aku masih mengepalkan tinjuku dengan erat hingga kukuku hampir menembus telapak tanganku.Tenggorokanku masih kering, bahkan sulit untuk mengeluarkan suara. Namun, yang menyebabkanku sulit mengeluarkan suara bukan karena tenggorokanku yang membutuhkan air, melainkan karena ketakutan.Ketakutan yang tidak asing.Itu adalah orang misterius yang selama ini mengganggu dan mengancamku dengan nomor yang tidak dikenal.Dia pernah mengirimkan pesan singka
Read more