Hari-hari Latisha berubah perlahan.Tak ada lagi suara alarm yang memaksanya bangun terburu-buru karena harus mengejar jam masuk kantor. Pagi-paginya kini dimulai dengan membuka jendela kamar, membiarkan cahaya matahari dan udara segar memenuhi rumah, sebelum menyiapkan secangkir kopi dan sarapan untuk Sagara.Ia mulai menikmati rutinitas sederhana yang dulu terasa mustahil dilakukan. Menyiapkan sarapan, membantu Sagara mengenakan dasinya, mengantar sang suami hingga ke depan pintu, lalu berdiri di teras sambil melambaikan tangan sampai mobil itu menghilang di ujung jalan.Setelah rumah kembali tenang, Latisha membereskan meja makan, merapikan setiap sudut rumah, menyiram tanaman yang mulai bermekaran di halaman, lalu sesekali pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan segar. Di waktu luangnya, ia membaca buku-buku yang selama ini hanya tersusun rapi di rak, mencoba resep-resep baru, bahkan beberapa kali mengikuti kelas memasak daring hanya karena ingin menyajikan masakan yang
Read more