“Mas Dion, tanganku masih gemetar,” kata Clara begitu pintu mobil mewah itu tertutup rapat, meredam seluruh hiruk-pikuk suara sirine polisi dan sorak-sorai tetangga di luar sana.Dion langsung menoleh. Ia tidak segera menyalakan mesin mobil, melainkan meraih kedua tangan Clara, menggenggamnya erat-erat di atas pangkuannya. Di jemari lentik tunangannya, tercetak guratan merah dan lecet akibat hantaman keras ke wajah Rania tadi. Dion membawa jemari itu ke bibirnya, mengecupnya dengan lembut dan penuh rasa bersalah yang teramat dalam.“Maafkan aku, Sayang,” ujar Dion, matanya menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Clara yang masih menyisakan sisa-sisa kilatan amarah. “Aku telat datang. Harusnya aku nggak membiarkan kamu menghadapi iblis itu sendirian sampai tangan kamu terluka seperti ini.”Clara menggeleng pelan, seulas senyum tipis terbit di wajahnya. “Aku nggak menyesal, Mas. Kalau aku nggak datang dan menghajarnya tadi, dia akan terus berpikir kalau keluarga kita bisa diinjak-injak
Baca selengkapnya