LOGINRania memutuskan selingkuh dan menceraikan suaminya karena hanya dijatah lima puluh ribu setiap hari, profesi pria itu hanya ojek online yang dinilai Rania tak bisa memberi kehidupan layak. Namun, beberapa hari kemudian Rania terkejut mendapati mantan suaminya turun dari mobil sport dengan memakai setelan formal. Bukankah pria itu hanya ojek online? Kenapa sekarang penampilannya bak orang kaya? Apa ada yang pria itu sembunyikan selama pernikahan mereka?
View MoreKeesokan Paginya Sinar matahari menyusup di balik celah gorden tebal, memantulkan seberkas cahaya keemasan di atas ranjang yang kini tampak berantakan. Kelopak mawar yang semalam tertata rapi, kini telah tersebar acak di antara selimut putih yang menggulung dua tubuh manusia di dalamnya.Clara adalah yang pertama membuka mata. Begitu kesadarannya terkumpul, rasa hangat yang menjalar di pinggangnya langsung terasa nyata. Lengan kekar Dion melingkar di sana, memeluknya dari belakang tanpa membiarkan ada jarak secenti pun di antara mereka.Saat Clara mencoba menggeser tubuhnya sedikit saja, sebuah ringisan kecil langsung lolos dari bibirnya."Sshhh ...." Clara menggigit bibir bawahnya. Ada rasa nyeri dan pegal menyerang area intim dan paha bagian dalamnya.Ia perlahan menurunkan pandangan ke balik selimut. Di atas seprai putih bersih yang sedikit tersingkap, matanya menangkap sebuah bercak merah samar yang telah mengering, sebuah bukti dari penyerahan dirinya yang paling suci semalam.
Begitu jam menunjukkan pukul delapan malam, seluruh rangkaian acara melelahkan itu akhirnya benar-benar selesai. Setelah berpamitan dengan orang tua mereka yang memilih menginap di lantai berbeda, Dion dan Clara akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar bridal suite mereka di lantai teratas hotel bintang lima tempat resepsi berlangsung.Kamar itu sangat luas, dengan ranjang king-size yang sudah ditaburi kelopak mawar merah dan aroma terapi lavender yang menenangkan. Namun, Clara tidak bisa langsung bersantai. Begitu pintu tertutup, tim penata rias dan asisten busana yang sudah menunggu langsung mengerubunginya untuk membantu proses melepas kebaya pengantin yang super rumit."Aduh, Mbak, pelan-pelan, ya, jarum pentul di sanggul saya banyak banget," ucap Clara meringis pelan saat asisten mulai mencabuti satu per satu hiasan di kepalanya.Dion sendiri memilih mengalah. Pria itu berjalan menuju area balkon dalam, membuka dua kancing teratas kemejanya, dan membiarkan para kru wanita bekerja
Dion menarik napas panjang, berusaha menetralkan debaran jantungnya yang mendadak melompat tak karuan akibat bisikan laknat nan menggoda dari istrinya. Tangannya bergerak meremas jemari Clara, memberikan kode keras agar wanita itu berhenti.“Tunggu sampai acara resepsi ini selesai, Clara,” balas Dion berbisik di samping telinga Clara, penuh penekanan.Clara hanya membalasnya dengan kekehan tanpa rasa takut sedikit pun. Bagi Clara, melihat wajah kaku sang suami yang nampak salah tingkah di hari pernikahan mereka adalah sebuah pencapaian terbesar abad ini.Setelah sesi sakral akad nikah dan foto bersama keluarga inti selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah serta pemberian ucapan selamat dari para kerabat, kolega bisnis, dan tamu undangan VIP yang mulai memadati area ballroom mewah tersebut. Alunan musik instrumental syahdu mengiringi langkah para tamu yang mengantre tertib untuk memberikan restu kepada sepasang pengantin baru itu.Elmer, sang Papa, melangkah maju menuju podiu
Dion tidak menjawab dengan kata-kata, ia justru menarik napas dalam-dalam, menunduk, dan mengecup kilat ujung hidung Clara dengan gemas hingga wanita itu tersentak.Sebelum Clara sempat melayangkan protes atau godaan baru, Dion dengan cepat langsung menyarungkan kaus oblong putih oversize pilihan Clara melewati kepala gadis itu. Kain katun tebal sontak menutupi seluruh wajah Clara selama beberapa detik.“Aduh, Mas! Pelan-pelan, muka cantikku tertutup!” seru Clara teredam dari balik kain, tangannya bergerak meraba-raba udara.Dion terkekeh, lantas menarik bagian bawah kaus hingga meluncur mulus menutupi tubuh ramping Clara, menyisakan paha mulusnya yang terekspos. Dion kemudian menepuk kedua pipi Clara yang kini kembali merona kemerahan karena dongkol.“Makanya, jangan menantang macan yang sedang menahan diri. Cepat kembali ke kasur,” ujar Dion, beralih mengambil alih tiang infus dan menuntun Clara kembali ke ranjang utamanya.Begitu tubuhnya menyentuh kasur empuk, Clara langsung ber
Rania mengibaskan rambutnya ke belakang, matanya menyapu seluruh sudut kamar. Ia melangkah pelan ke arah lemari kayu yang sudah mulai reyot, menarik laci bawahnya yang biasanya tersembunyi dari pandangan. Dengan gerakan cepat, ia menggeser tumpukan handuk lama dan beberapa buku harian t
Meski diusir secara tidak hormat, Rania tetap berdiri di depan gerbang perusahaan Dion, tempat pria itu terakhir terlihat. Matanya memerah, tapi tidak berkedip sedikit pun. Angin sore meniup ujung rambutnya yang mulai kusut, tapi ia tak peduli. Harga dirinya sudah koyak, lebih koyak daripada perb
Keesokan harinya.Pagi itu, suasana di kediaman keluarga Elmer terasa sibuk. Para pelayan mondar-mandir mempersiapkan berbagai hidangan dan dekorasi sederhana tapi elegan. Kabar pertunangan Dion dan Clara akan diumumkan secara resmi di hadapan keluarga, kolega bisnis, dan beber
Dion menghela napas panjang, merasa terbebani dengan pemikiran papanya. Ia tahu, Elmer selalu punya rencana besar untuknya, terutama soal perjodohan. Namun, untuk kali ini, Dion merasa sedikit terjepit. "Tapi Pa, kita nggak bisa memaksakan semuanya. Aku nggak ingin terlihat seperti aku


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews