MasukRania memutuskan selingkuh dan menceraikan suaminya karena hanya dijatah lima puluh ribu setiap hari, profesi pria itu hanya ojek online yang dinilai Rania tak bisa memberi kehidupan layak. Namun, beberapa hari kemudian Rania terkejut mendapati mantan suaminya turun dari mobil sport dengan memakai setelan formal. Bukankah pria itu hanya ojek online? Kenapa sekarang penampilannya bak orang kaya? Apa ada yang pria itu sembunyikan selama pernikahan mereka?
Lihat lebih banyakLiving as two person is such a pain in the ass but I love every second of it. I still get the fame and the private life that I've always wanted.
I was born as Cassie Edwards, your typical nerd at school that always wear braces and glasses. Not to mention that I'm the second daughter of Billy Edwards who is a famous businessman. I have one big sister and 3 older brothers. Yes, that's a lot. But I live as another identity too. I made Katherina Locks. I've been modelling since I was 15 and now I'm 18 years old. I joined a famous model agency called the McCoy Models.
Living as a billionaire daughter and a model was not easy. My family wanted me to have privacy living my school life and not wanting people to bully me too. So when I'm living as Cassie, I used wig and fake braces along with the big glasses. I wore baggy shirts too so I will be invisible.
I used to be bullied when I was in middle school, so I prefer that I stay hidden all the time. Not to mention that I'm not that smart to begin with so.. such a perfect scenario.
I have 4 older siblings. My sister, Clarissa, she's a pianist and famous one. She's so loveable and I always look up to her. Then I have a twin brother, Victor and Vincent. They're 3 years older than me. Victor is an actor and Vincent is a famous chef. As for my oldest brother, Dean, he is the CEO of our company replacing our dad.
I have 3 bestfriends and they're all models. I love them a lot.
"Let me drop you to school." Dean said.
"Breakfast first, Cassie!" My mom said as I'm taking my shoes out from the shoe rack.
"I'm late, mom." I said.
"Make sure to eat at school!" My dad said from his office room.
"Bye!" I said as I dragged Dean with me out form the house. He took out his keys to his Porsche and I got into the passenger seat. I got inside and pulled my small mirror to see myself.
Black wig check
Fake braces check
Big glasses check
Baggy shirt check
"What time will you finish school?" Dean asked as he got in. I put on my seatbelt and ready to go.
"Don't worry about me."
"Ask Clarissa to pick you up, sadly that we only have two drivers and the twins are using it." He said.
"Don't worry, I'll be okay. I'll call Clarissa later.."
"She might have practice but I'll let her know." Dean said as he started his car and drove out from the house.
Who doesn't know the Edwards? But my parents successfully keep everyone hidden because they're afraid that we will get affected. So the only kid that people knew was Dean. They knew Billy Edwards has 5 children but the public only knew one. I mean some people knew but my dad always took off our photos from the internet before it gets spread out.
"Dean, stop here." I told him to drop me a block away from my school.
"Okay. Cassie.."
"Hmm?" I asked as I turned to him. He gave me his sandwich and I chuckled.
"Thanks."
"Make sure to eat it, you lose a lot of weight after that fashion show."
"I'll keep that in mind!" I said and got out from his car. I looked around and I'm glad that I'm an early bird so there's not a lot of student here. I walked to school and greeted by my bullies. My family never knew that I always got teased a lot at school.
"Look who's here.. Cassie the nerd. So dare or dare?" Gina asked as she cornered me witj her minions.
"Or?" I looked down.
"I dare you to ask Cole Harrison to be your boyfriend." She said and I looked at her in horror.
"No, I can't." I said in a small tone. I really don't want to get into trouble.
"If you don't do it, I'll let the principal know that you stole my things." She threatened me and I know she's not bluffing.
"I'll do it." I said and she gestured me to go. I looked around to look for Cole. I made my way to on the other side of the hallway where I saw him leaning to the locker talking to his friends. This is going to be embarassing but I had no choice.
I walked to him slowly and Gina gestured me to speed up. I stopped right in front of him and he looked at me raising his eyebrows.
"Uhmm Cole.. Cole Harrison, will you be my boyfriend?" I asked in a small tone.
"What?! Louder!" Gina said and everyone turned their attention at me.
"Will you be my boyfriend?" I asked as I gulped nervously. I was ready for him to embrass me in front everyone. Cole looked at me with a smirk and I closed my eyes, ready for him to say no.
"Okay." What?! I could hear everyone gasping and I opened my eyes looking at him disbelief.
"What?!" I heard Gina completely pissed.
I just knew, from that moment, my life will change.
Keesokan Paginya Sinar matahari menyusup di balik celah gorden tebal, memantulkan seberkas cahaya keemasan di atas ranjang yang kini tampak berantakan. Kelopak mawar yang semalam tertata rapi, kini telah tersebar acak di antara selimut putih yang menggulung dua tubuh manusia di dalamnya.Clara adalah yang pertama membuka mata. Begitu kesadarannya terkumpul, rasa hangat yang menjalar di pinggangnya langsung terasa nyata. Lengan kekar Dion melingkar di sana, memeluknya dari belakang tanpa membiarkan ada jarak secenti pun di antara mereka.Saat Clara mencoba menggeser tubuhnya sedikit saja, sebuah ringisan kecil langsung lolos dari bibirnya."Sshhh ...." Clara menggigit bibir bawahnya. Ada rasa nyeri dan pegal menyerang area intim dan paha bagian dalamnya.Ia perlahan menurunkan pandangan ke balik selimut. Di atas seprai putih bersih yang sedikit tersingkap, matanya menangkap sebuah bercak merah samar yang telah mengering, sebuah bukti dari penyerahan dirinya yang paling suci semalam.
Begitu jam menunjukkan pukul delapan malam, seluruh rangkaian acara melelahkan itu akhirnya benar-benar selesai. Setelah berpamitan dengan orang tua mereka yang memilih menginap di lantai berbeda, Dion dan Clara akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar bridal suite mereka di lantai teratas hotel bintang lima tempat resepsi berlangsung.Kamar itu sangat luas, dengan ranjang king-size yang sudah ditaburi kelopak mawar merah dan aroma terapi lavender yang menenangkan. Namun, Clara tidak bisa langsung bersantai. Begitu pintu tertutup, tim penata rias dan asisten busana yang sudah menunggu langsung mengerubunginya untuk membantu proses melepas kebaya pengantin yang super rumit."Aduh, Mbak, pelan-pelan, ya, jarum pentul di sanggul saya banyak banget," ucap Clara meringis pelan saat asisten mulai mencabuti satu per satu hiasan di kepalanya.Dion sendiri memilih mengalah. Pria itu berjalan menuju area balkon dalam, membuka dua kancing teratas kemejanya, dan membiarkan para kru wanita bekerja
Dion menarik napas panjang, berusaha menetralkan debaran jantungnya yang mendadak melompat tak karuan akibat bisikan laknat nan menggoda dari istrinya. Tangannya bergerak meremas jemari Clara, memberikan kode keras agar wanita itu berhenti.“Tunggu sampai acara resepsi ini selesai, Clara,” balas Dion berbisik di samping telinga Clara, penuh penekanan.Clara hanya membalasnya dengan kekehan tanpa rasa takut sedikit pun. Bagi Clara, melihat wajah kaku sang suami yang nampak salah tingkah di hari pernikahan mereka adalah sebuah pencapaian terbesar abad ini.Setelah sesi sakral akad nikah dan foto bersama keluarga inti selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah serta pemberian ucapan selamat dari para kerabat, kolega bisnis, dan tamu undangan VIP yang mulai memadati area ballroom mewah tersebut. Alunan musik instrumental syahdu mengiringi langkah para tamu yang mengantre tertib untuk memberikan restu kepada sepasang pengantin baru itu.Elmer, sang Papa, melangkah maju menuju podiu
Dion tidak menjawab dengan kata-kata, ia justru menarik napas dalam-dalam, menunduk, dan mengecup kilat ujung hidung Clara dengan gemas hingga wanita itu tersentak.Sebelum Clara sempat melayangkan protes atau godaan baru, Dion dengan cepat langsung menyarungkan kaus oblong putih oversize pilihan Clara melewati kepala gadis itu. Kain katun tebal sontak menutupi seluruh wajah Clara selama beberapa detik.“Aduh, Mas! Pelan-pelan, muka cantikku tertutup!” seru Clara teredam dari balik kain, tangannya bergerak meraba-raba udara.Dion terkekeh, lantas menarik bagian bawah kaus hingga meluncur mulus menutupi tubuh ramping Clara, menyisakan paha mulusnya yang terekspos. Dion kemudian menepuk kedua pipi Clara yang kini kembali merona kemerahan karena dongkol.“Makanya, jangan menantang macan yang sedang menahan diri. Cepat kembali ke kasur,” ujar Dion, beralih mengambil alih tiang infus dan menuntun Clara kembali ke ranjang utamanya.Begitu tubuhnya menyentuh kasur empuk, Clara langsung ber
Rania mengibaskan rambutnya ke belakang, matanya menyapu seluruh sudut kamar. Ia melangkah pelan ke arah lemari kayu yang sudah mulai reyot, menarik laci bawahnya yang biasanya tersembunyi dari pandangan. Dengan gerakan cepat, ia menggeser tumpukan handuk lama dan beberapa buku harian t
Meski diusir secara tidak hormat, Rania tetap berdiri di depan gerbang perusahaan Dion, tempat pria itu terakhir terlihat. Matanya memerah, tapi tidak berkedip sedikit pun. Angin sore meniup ujung rambutnya yang mulai kusut, tapi ia tak peduli. Harga dirinya sudah koyak, lebih koyak daripada perb
Keesokan harinya.Pagi itu, suasana di kediaman keluarga Elmer terasa sibuk. Para pelayan mondar-mandir mempersiapkan berbagai hidangan dan dekorasi sederhana tapi elegan. Kabar pertunangan Dion dan Clara akan diumumkan secara resmi di hadapan keluarga, kolega bisnis, dan beber
Dion menghela napas panjang, merasa terbebani dengan pemikiran papanya. Ia tahu, Elmer selalu punya rencana besar untuknya, terutama soal perjodohan. Namun, untuk kali ini, Dion merasa sedikit terjepit. "Tapi Pa, kita nggak bisa memaksakan semuanya. Aku nggak ingin terlihat seperti aku












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan