Nares berjalan sedikit lebih dekat, menyesuaikan langkahnya dengan langkah Kamila yang pelan—bahkan terlalu pelan untuk ukuran orang yang biasanya lincah seperti dirinya. Tangan pemuda itu tetap terulur, tidak memaksa, tapi cukup dekat untuk Kamila raih jika sewaktu-waktu keseimbangannya goyah. “Mbak, mau mampir dulu beli sesuatu?” ulang Nares, suaranya tenang, seperti orang yang sama sekali tidak sedang terburu-buru. Padahal Kamila tahu persis, pemuda itu punya jadwal pemotretan jam sebelas, dan sekarang waktu sudah hampir merayap menuju setengah sebelas. Kamila menunduk sedikit, mengatur napasnya yang terasa pendek. “Nggak usah aja deh. Aku juga nggak pengen apa-apa,” jawabnya pelan, mencoba terdengar meyakinkan walaupun tangannya sesekali menekan perut yang nyeri itu tanpa sadar. Nares memiringkan kepala, memerhatikan gerak kecil itu. “Saya nggak apa-apa, Mbak. Saya nggak merasa direpotkan,” ucapnya, lembut tapi tegas. Ada getar kesungguhan dalam suaranya—getar yang membuat
Last Updated : 2025-12-24 Read more