Matahari bergerak tanpa suara. Bayangan pohon di taman berpindah beberapa sentimeter, hampir tidak terasa, kecuali oleh Arsen yang duduk terlalu lama tanpa bergerak. Ia memperhatikan bagaimana cahaya kini jatuh tepat di sandaran bangku, tempat Kamila biasanya menyandarkan tas popok. Ia mengingat detail yang tidak penting. Atau mungkin justru sangat penting. Raka berdiri beberapa langkah dari mereka, berpura-pura menatap layar ponsel, tapi matanya sesekali terangkat—mengamati, menimbang, mencatat tanpa menulis. Kamila masih memejamkan mata. Ia tidak berdoa. Ia tidak berpikir. Ia hanya mencoba bertahan di tubuhnya sendiri. “Bu,” suara seorang anak kecil memecah ruang di antara mereka. “Bolehkah aku duduk di sini?” Kamila membuka mata. Seorang bocah perempuan berdiri di depan bangku, mungkin tujuh atau delapan tahun, rambutnya dikepang dua, wajahnya memerah karena panas. “Tentu,” kata Kamila otomatis. Anak itu duduk di ujung bangku, menggoyangkan kakinya. “Ibu puny
Last Updated : 2026-02-06 Read more