Pagi itu berjalan lebih lambat dari biasanya.Jam dinding kecil di sudut ruang tengah baru saja menunjukkan pukul setengah delapan, namun Kamila merasa waktu seolah tertahan di antara detik-detik yang menggantung. Udara masih dingin, bercampur bau sabun bayi dan sisa sayur bening dari dapur. Cahaya matahari masuk samar lewat jendela, jatuh tepat di lantai semen yang dingin.Kamila berdiri di dekat meja kecil, membungkuk sedikit, memeriksa tas kain berwarna biru muda—tas Dania.Tangannya bergerak pelan namun cekatan. Popok cadangan, tisu basah, botol susu, baju ganti, selimut tipis. Satu per satu ia periksa, seolah takut ada yang terlewat. Keningnya sedikit berkerut, bukan karena bingung, melainkan karena pikirannya bercabang ke mana-mana.Di sudut ruangan, Dania tertidur tenang di box kecilnya.Sementara itu, Arsen masih ada di sana.Belum pergi.Pria itu berdiri bersandar di dekat jendela, ponselnya masih di tangan, layar menyala menampilkan jadwal meeting yang sejak tadi ia abaikan.
Last Updated : 2026-01-10 Read more