Setelah mengunjungi ibunya, Arsen berpamitan pada sang ayah untuk segera kembali ke Jakarta. Langit sore di Bandung tampak menggantung rendah, abu-abu pucat dengan sisa cahaya matahari yang malas bergerak. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dari halaman rumah sakit yang masih setia menjaga keheningan di sekelilingnya. Arsen berdiri di depan pintu mobilnya, satu tangan menggenggam kunci, satu tangan lainnya masih berada di saku jas. Tubuhnya lelah—bukan hanya oleh perjalanan panjang dan jam kerja yang tak beraturan, tetapi oleh pikiran yang sejak lama tidak pernah benar-benar beristirahat. Ia ingin pulang. Lebih tepatnya, ia ingin kembali ke Jakarta. Ia ingin melihat Kamila. Mendengar suaranya secara langsung, bukan hanya lewat panggilan singkat di sela rapat. Ia ingin menatap Dania—anak kecil yang kehadirannya perlahan mengubah cara ia memandang hidup, waktu, dan ketakutan yang selama ini tidak pernah ia akui. “Ya, papi ijinin,” suara Bram terdengar tenang, han
Terakhir Diperbarui : 2026-01-28 Baca selengkapnya