“Kenapa memandangiku seperti itu?” Ethan menatapnya, intens. “Awas, jaga pandanganmu. Nanti bisa jatuh cinta kalau kelamaan memandang pria tampan.”Bella terpaku di anak tangga teratas, memandangi punggung lebar Ethan yang bergerak menjauh dengan keangkuhan yang sudah mendarah daging.“Kau masih berdiri di sana? Nggak masuk? Di luar semakin dingin, Bella.” Ia menoleh sebentar, “Atau… mau aku gendong, hm?”Ucapan Ethan terasa seperti racun yang merambat pelan, melumpuhkan akal sehatnya."Sinting," desis Bella pelan, namun ia tetap melangkah menyusul. Pijakan kakinya dihentakkan, melewati presensi Ethan dengan ekspresi kesal luar biasa.Pintu jati besar itu terbuka, mengeluarkan aroma kayu cendana dan masakan rumah yang hangat. Di sana, Margaretha berdiri dengan senyum lebar yang nyaris membuat Bella merasa bersalah. Ibunya tampak jauh lebih sehat sejak pindah ke pedesaan ini, namun ada binar harapan di matanya yang justru membuat Bella merasa tercekik."Bella! Oh, sayang, syukurlah
Last Updated : 2026-01-28 Read more