“Rian, USB ini beneran punya Mama?” tanya Naya, suaranya tegang di sudut studio kecil di Kemang, cahaya lampu neon memantul di dinding kaca, menciptakan bayang seperti rahasia yang berbisik. Tangan Naya mencengkeram USB kecil, plastiknya terasa dingin di telapaknya, jantungnya seperti drum yang patah di tengah irama. Rian berdiri di depannya, aroma jaket kulitnya bercampur bau cat baru dari dinding studio. “Nay, aku nemuin di laci Mama lo di rumah,” katanya, matanya penuh perhatian seperti lampu panggung yang menyala pelan. “Ada file di situ, tapi kita butuh laptop yang aman.” Di luar, Jakarta malam berdenyut—suara motor ojek daring di gang sempit dan kilau lampu neon dari warung kopi menyusup lewat jendela.Naya mengangguk, tangannya gemetar saat ia memasukkan USB ke laptop tua di meja studio. Layar menyala, menampilkan folder bertuliskan Ratna_2015. “Ini tulisan tangan Mama,” gumamnya, suaranya serak seperti kaset tua yang tergores. Ia teringat, video dirinya kecil main piano di
Terakhir Diperbarui : 2025-10-24 Baca selengkapnya