10 November 2025, pagi cerah di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Matahari terbit di ufuk timur, sinar kuning menembus kabut polusi, gedung kolonial berdiri megah dengan dinding putih tinggi, pilar-pilar besar, bau kayu jati dan kertas lama menyelimuti koridor. Ruang sidang 1 penuh sesak—wartawan dengan kamera blitz, 50 kursi penonton, suara bisik-bisik bercampur bau kopi instan dan keringat.Naya, Maya, Lara, Rian, dan Lisa duduk di baris depan—tangan saling genggam erat, napas tersengal. Naya pakai blazer hitam, rambut diikat rapi, mata merah karena kurang tidur tiga hari. Maya di sampingnya, gaun katun sederhana dari Ubud, tangan gemetar memegang tas kecil. Lara—gitar pink di pangkuan—duduk di ujung, mata besar penuh harap, kaki kecilnya bergoyang-goyang. Rian di sisi lain, jas hitam, dasi tipis, tangan di pundak Naya, jari mengusap lengan pelan.Hakim—wanita tua, rambut putih disanggul, kacamata tebal—duduk di kursi tinggi, palu kayu di tangan. Layar besar di dinding menampilkan Bu
Terakhir Diperbarui : 2025-11-02 Baca selengkapnya