“Naya, Ardi, pengacara Vita, ajukan gugatan—bilang lo nggak punya hak atas Nada di Tengah Hujan,” kata Lisa, pengacara yang Rian hubungi semalam, suaranya tajam di telepon, bergema di ruang tunggu RS Cikini. Naya mencengkeram ponsel, jantungnya seperti benang yang kusut, kaca jendela rumah sakit mencerminkan wajah pucatnya di bawah lampu neon. Di sampingnya, Ratna terbaring, mata lemahnya baru terbuka setelah koma, tapi gugatan Ardi seperti pisau di hati. “Lisa, Mama nggak tahu soal kontrak Budi,” jawab Naya, suaranya serak, mengingat USB ibunya dan dokumen Vita: Ratna tahu soal kontrak. “Budi curi lagu Mama, tapi kenapa Vita bilang Mama setuju?” Di luar, Jakarta malam berderu—hujan menghantam jendela, kilau lampu Sudirman seperti mata kota yang mengintai.Di pelabuhan Tanjung Priok, Vita bersembunyi di balik peti kemas, jari-jarinya mencengkeram ponsel burner, layarnya redup menunjukkan pesan ke Ardi: Ajukan gugatan lebih keras ke Naya. Bilang Ratna tahu kontrak. Cahaya lampu pela
Terakhir Diperbarui : 2025-10-26 Baca selengkapnya