Tanah yang dipijak Arga terasa lebih dingin dari yang ia bayangkan. Bukan karena malam—matahari masih menggantung di langit, meski cahayanya mulai condong dan melemah—melainkan karena tempat ini seolah tidak pernah benar-benar mengenal kehangatan. Udara di dalamnya berat, lembap, dan diam… terlalu diam untuk tempat yang dipenuhi manusia. Arga menahan napas, merendahkan tubuhnya di balik bayangan dinding batu yang kasar. Dari posisi itu, suara-suara di dalam bangunan mulai terdengar lebih jelas. Rintihan pelan, hampir tak terdengar. Bisikan lemah yang terputus-putus. Dan gesekan rantai yang berulang, monoton, seolah menjadi irama yang tak pernah berhenti. Setiap suara itu menusuk kesadarannya perlahan, seperti jarum yang ditusukkan satu per satu tanpa terburu-buru. Ia memaksa dirinya tetap fokus. Tubuhnya bergerak perlahan, terkontrol, mengikuti apa yang pernah diajarkan Hendrickson—cara memindahkan berat badan tanpa suara, cara mengatur napas agar tidak terdengar, cara menya
Read more