Pagi itu, Arga terbangun di tempat tidur yang terasa terlalu besar dan kosong. Ia menatap langit-langit yang seakan tak pernah berubah. Hatinya tak lagi bersemangat, tak ada senyum yang mengembang seperti dulu. Sylvia, yang sudah siap untuk berangkat, memandangnya dengan cemas. "Arga..." Sylvia berkata lembut, "Kamu baik-baik saja?" Arga hanya mengangguk pelan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tahu, ia tak lagi sama. "Aku... aku tak tahu apa yang harus kulakukan," ujarnya akhirnya dengan suara lemah. "Ayo, kita harus terus maju," kata Sylvia, menyentuh bahunya. "Aku tahu ini sulit, tapi kita harus melanjutkan pencarian ini. Semua yang kita lakukan semuanya berbuah hasil, itu pasti." "Iya, terimakasih. Kita pasti bisa menyelamatkannya." Arga menjawab dengan nada yang tak sama sekali menunjukkan semangat. "Ayolah Arga, senyumlah sedikit. Aku masih disini, aku akan menemanimu sampai kita mencapai tujuan. Walaupun aku harus sakit dan terluka, aku tetap akan di sampingmu. Ba
Read more