Mentari pagi baru saja muncul ketika Arga melangkah ke halaman belakang rumah Hendrickson. Udara masih terasa sejuk, sementara embun yang menempel di rerumputan memantulkan cahaya keemasan yang menyelinap di sela-sela pepohonan. Hutan di belakang rumah masih diselimuti kabut tipis, dan suara burung-burung yang saling bersahutan menjadi latar alami yang sudah mulai terasa akrab baginya. Beberapa minggu terakhir, kehidupannya berjalan dengan ritme yang hampir sama setiap hari—bangun sebelum matahari terbit, berlatih, membantu pekerjaan rumah, berdagang jika diperlukan, lalu kembali berlatih hingga matahari mulai tenggelam. Rutinitas itu memang melelahkan, tetapi untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, Arga merasa dirinya benar-benar berkembang. Di tengah arena latihan, Saki sudah menunggu sambil memegang dua pedang kayu. "Kukira kau akan terlambat," katanya sambil melempar salah satu pedang itu. Arga menangkapnya dengan refleks. "Baru saja lewat beberapa detik." "Beberapa de
Read more