Happy Reading****"Kenapa? Kenyataan memang gitu, kok," sahut Novita santai, "Nggak perlu membohongi diri sendiri, Mut.""Bener, Beb," tambah Alfian."Maafin Papa, dong, Ma. Biar kita bisa ngumpul lagi kayak dulu." Si kecil pun ikut-ikutan memprovokasi mamanya. Mutia terdiam, sementara Bagas terus tersenyum sambil menyuapi sang kekasih.Beberapa menit kemudian setelah semua makanan Mutia habis, pasangan yang sudah lama menjadi sahabat terdekat si ibu guru, pamit. Novita dan Alfian tidak bisa menemani sahabatnya di rumah sakit. "Terima kasih sudah datang menjenguk Mutia," ucap Bagas dengan wajah setulus mungkin."Duh, kayak sama siapa saja, Pak. Kami ini bukan orang lain, kok," kata Alfian."Benar, Pak. Besok pagi, kalau Bapak sibuk biar saya yang menjaga Mutia," tambah Novita."Nggak usah, Tan. Aku bisa jagain Mama sendirian, kok," sela si kecil. "Kalian ini kayak aku yang sakit parah saja. Aku ini nggak sakit sebenarnya, cuma Pak Bagas saja yang sedikit lebay. Harusnya, langsung
Last Updated : 2025-07-24 Read more