Mag-log inKehidupan Mutia berubah 180 derajat ketika sang kekasih mengumumkan pertunangannya dengan seorang anak pengusaha terkaya di kota kelahirannya. Demi mencari perlindungan diri dari teror tunangan sang mantan, Mutia terpaksa membuat perjanjian dengan anak penguasa wilayahnya tinggal. Hanya saja, perjanjian itu justru mengungkapkan berbagai rahasia kelam gadis yatim piatu itu. Lantas, bagaimana kisah Mutia selanjutnya?
view moreHappy Reading*****"Agak aneh," sahut Arham."Nggak aneh, cuma kaget saja. Kamu bisa ngomong sebijak itu," tambah Surya."Anak Mama ternyata sudah semakin dewasa," timpal Anjani."Makin sayang kalau suamiku seperti ini," jawab Mutia."Kalian ini," ucap Bagas, malu-malu.Anjani tidak berani berkomentar karena takut Bagas akan tersinggung. Sementara itu, Nazar sudah berhasil memeluk Fardan. Sejak anak itu ditemukan dan dibawa pulang oleh anjani dan Surya, Nazar sebenarnya juga ingin dekat. Namun, sayangnya kebenciannya pada Bagas terlalu besar sehingga menyebabkan tembok pemisah yang menjulang tinggi. Pada dasarnya, Nazar itu penyayang dan sangat menyukai anak-anak."Boy, apa kamu mau manggil aku, Om?" tanya Nazar sebelum benar-benar memeluk si kecil yang hampir beranjak remaja.Tangan Fardan terangkat, mencegah Nazar mendekatinya."Boy, jangan begitu," nasihat Bagas disertai senyuman lembut."Apaan, sih, Pa," protes si kecil. Menatap lelaki di depannya. "Om boleh meluk, tapi ada syara
Happy Reading*****Mutia hampir melayangkan kembali tamparan di pipi Nazar andai tangan sang suami tidak bergerak cepat mencekalnya."Sayang, kekerasan tidak akan menyadarkannya. Lagian, saat ini dia sedang dipengaruhi oleh alkohol. Otaknya sudah bergeser," bisik Bagas memperingati sang istri. Mutia terdiam, baru menyadari jika suaminya memang sudah berubah. Biasanya, Bagas akan langsung melakukan kekerasan fisik pada seseorang yang nyata-nyata menentangnya."Mas, dia sangat menentangmu," kata Mutia, masih tak percaya jika suaminya akan dengan mudah memaafkan apa yang sudah dilakukan Nazar."Perkataan Mutia benar. Aku menantangmu secara terang-terangan. Serahkan dia untuk kembali padaku. Maka, aku akan melupakan semua dendam ini." Nazar menatap garang pada Bagas."Nazar, di mana hati nuranimu? Kenapa kamu tega melakukan ini? Jangan sampai Mas Bagas kembali marah dan nggak akan memaafkanmu," bentak Mutia."Biarkan dia melampiaskan semua kekesalan hatinya, Sayang," sahut Bagas, "Apa y
Happy Reading*****Mutia menoleh ke arah sang suami. Mengerutkan keningnya sambil bertanya dengan gerak bibir. "Siapa?"Bagas mengangkat kedua bahunya karena memang tidak mengetahui siapa yang menelpon Mutia dan tidak mempercayai jika dia adalah suami si ibu guru."Tolong jangan marah dulu, Pak. Saya cuma pekerja kafe yang diminta untuk menelpon nomor ini. Orang itu mengatakan jika Bu Mutia adalah istrinya dan sekarang Bapak mengaku sebagai suami Bu Mutia. Jadi, saya bingung. Siapa yang benar dan salah di sini," jelas suara di seberang. "Ngawur saja!" bentak Bagas. Mutia dengan cepat memencet tombol speaker untuk mengetahui penyebab kemarahan sang suami. "Sabar, Sayang," bisik Mutia disertai kecupan di pipi sang suami. "Maaf, kalau memang salah, Pak. Kami cuma menjalankan tugas saja. Kafe kami sudah mau tutup dan orang ini mabuk berat. Jadi, tujuan saya menelpon Bu Mutia sebagai istrinya supaya mau menjemput beliau."Mutia dan Bagas saling pandang. Lalu, si ibu guru membisikkan se
Happy Reading*****Mutia menempelkan kedua tangannya pada pipi sang suami. Menatap Bagas penuh cinta."Maaf, Mas Sayang," ucap si ibu guru membuat Bagas membulatkan kelopak matanya. Mutia beringsut, menggeser posisinya semula, mundur.Senyum si lelaki terbit, lalu menyerang bibir Mutia secara membabi buta. Bagas sama sekali tidak memberikan kesempatan pada sang istri untuk melanjutkan perkataannya tadi. Mengapa Mutia sampai harus meminta maaf.Selang beberapa menit kemudian karena ciuman Bagas yang menuntut, Mutia mulai kehabisan napas. Memukul-mukul pelan dada bidang sang suami, si ibu guru meminta untuk menghentikan aksi mereka.Bagas melepaskan pagutannya. Menyatukan kening dengan napas memburu. "Kenapa minta maaf, Hem?" tanyanya."Kita nggak bisa melakukan itu," kata Mutia."Kenapa?" Kedua alis Bagas hampir menyatu. Keningnya berkerut dan raut mukanya menunjukkan kekecewaan yang sangat.Si ibu guru mendekatkan bibirnya ke telinga sang suami. Lalu berkata cukup lirih, "Aku lagi da
Happy Reading*****Bagas mengutuk lelaki yang memecah konsentrasinya tadi. Dia menatap tajam pada tamu yang tak dikenalnya itu. Keringat pun mulai turun membasahi dahinya.Mutia dengan cepat menggerakkan tangannya, menggenggam tangan sang calon imam dan menggelengkan kepalanya supaya tidak marah pa
Happy Reading*****"Ma, ayo cepetan masuk. Aku ngantuk banget, pengen segera tidur karena besok pasti akan lebih melelahkan dari hari ini," kata si kecil yang tidak merasakan kehadiran Mutia berjalan di sampingnya."Tunggu sebentar, Sayang. Ada yang harus Mama selesaikan," kata Mutia yang membuat
Happy Reading*****Arham mengangkat kedua bahunya. "Mana aku tahu. Tadi, sebelum kamu minum obat dari Satya, cincin itu sudah kamu pegang," jelasnya.Bagas menatap sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter, seolah dia berkata, apakah sang dokter mengetahui keberadaan cincin yang diperuntukkan untu
Happy Reading*****Mutia menarik garis bibirnya, senyumnya benar-benar lebar saat ini. Tindakannya adalah bentuk balas dendam apa yang sudah Bagas lakukan."Sayang, kok, bisa?" tanya Bagas sekali lagi."Bisalah," jawab Mutia santai bahkan terlalu santai hingga membuat orang di sekelilingnya menata












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore