Malam datang tanpa peringatan, seperti biasanya. Namun bagi Zafran, malam itu terasa berbeda—lebih sunyi, lebih sempit, seolah udara di sekitarnya menekan dari segala arah.Ia duduk sendirian di ruang kerja. Lampu meja menyala, menerangi tumpukan dokumen yang rapi, sejajar, nyaris sempurna.Laptop terbuka, layar menampilkan spreadsheet yang belum disentuh sejak sore. Jam di dinding berdetak pelan, teratur, ritmenya biasanya menenangkan. Kali ini tidak.Zafran menatap layar kosong itu lama.Ia mencoba bekerja. Benar-benar mencoba.Tangannya bergerak ke keyboard, membuka file lama, membaca laporan yang seharusnya familiar. Namun huruf-huruf itu tidak masuk. Otaknya seperti terpisah dua: satu bagian tetap berjalan, menganalisis, menghitung; bagian lain terhenti di satu titik—percakapan sore tadi.“Aku hanya meminta waktu.”Kalimat itu berulang. Bukan dengan suara Zayna, melainkan versi distorsi di kepalanya sendiri. Datar, namun berat.Zafran menutup laptop perlahan. Ia bersandar di kurs
Huling Na-update : 2026-01-14 Magbasa pa