Kota itu tertidur di bawah selimut malam, tapi Zayna berjalan dengan langkah-langkah yang memecah kesunyian. Jalanan sepi, hanya diterangi oleh cahaya lampu jalan yang keemasan, menciptakan pulau-pulau terang di antara lautan bayangan. Angin malam berhembus, membelai kerudungnya yang berkibar pelan, seperti tangan yang tak tega melihatnya pergi.Zafran melihatnya dari kejauhan—siluet yang tegak namun gemetar, seperti batang bambu yang dilanda angin kencang.Nafasnya tertahan di dada. Dia tidak pernah mengejar siapa pun dalam hidupnya. Prinsipnya jelas: biarkan segala sesuatu mengalir sesuai takdir. Tapi malam ini, kakinya bergerak sebelum pikirannya memberi perizinan."Zayna."Suaranya rendah, terbawa angin, tapi cukup untuk membuat langkahnya terhenti. Zayna tidak menoleh. Bahunya naik turun dengan cepat, dan Zafran tahu—dia menangis. Sesuatu di dadanya terasa sesak, sensasi asing yang tidak bisa dia identifikasi."Tolong," bisik Zayna, suaranya parau dan pecah. "Pulanglah, Zafra
Terakhir Diperbarui : 2025-12-10 Baca selengkapnya