Share

150

Penulis: Eselitaa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 11:46:32

Aula pernikahan itu dipenuhi nuansa lembut bernuansa putih gading dan hijau zaitun.

Kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an menghiasi beberapa sudut, berpadu dengan rangkaian bunga segar yang sederhana namun elegan.

Lantunan shalawat mengalun pelan, menenangkan hati siapa pun yang hadir. Tidak berlebihan, tidak gemerlap—semuanya terasa khidmat, sebagaimana doa yang dipanjatkan sejak pagi.

Zayna berdiri di ruang persiapan bersama Alisha dan Ira. Mereka bertiga mengenakan gaun bridesmaid syar’i dengan potongan longgar, lengan panjang, dan kerudung yang menjuntai anggun.

Warna gaun mereka serasi—lembut, menenangkan—seakan menyatu dengan suasana sakral hari itu.

Alisha memandang Zayna dari ujung kepala sampai kaki, lalu tersenyum lebar. “MasyaAllah, Za. Kamu cantik sekali hari ini.”

Ira mengangguk setuju. “Cantik yang adem. Bikin orang tenang lihatnya.”

Zayna tersenyum malu, menunduk sambil membenahi lipatan kerudungnya. “Kalian juga cantik. Jangan berlebihan, ya.”

“Ini bukan berlebihan,” sahut Ali
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   155

    Zayna membayangkan. Dia melihat dirinya di laboratorium modern, mengenakan jas dokter, dihormati oleh banyak orang.Tetapi pulang ke apartemen yang sepi, tidak ada yang menyambut, tidak ada yang peduli apakah dia sudah makan atau belum."Sekarang bayangkan kamu menikah dengan Zafran, punya keluarga, tetapi tidak jadi dokter spesialis. Apakah kamu bahagia?" lanjut Summayah.Zayna membayangkan lagi. Dia melihat dirinya di rumah yang hangat, Zafran menyambutnya dengan senyuman, mungkin ada anak-anak yang berlari memeluknya. Tetapi ada rasa kosong di hatinya, ada impian yang tidak tercapai."Aku... aku tidak bahagia di kedua skenario itu, umi," bisik Zayna."Karena kamu sebenarnya ingin keduanya, sayang. Kamu ingin karir dan cinta. Dan itu tidak salah," ucap Summayah. "Pertanyaannya adalah, apakah Zafran adalah lelaki yang bisa memberikan keduanya untukmu?"Zayna terdiam. Pertanyaan ibunya membuatnya berpikir."Zayna, coba bicara dengan Zafran. Sampaikan tentang beasiswa ini. Lihat reaksi

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   154

    Zayna menundukkan kepalanya, mengaduk-aduk sup di hadapannya tanpa selera makan. "Dokter, aku... aku bingung."Dokter Langit meletakkan sendoknya dan menatap Zayna dengan penuh perhatian. "Bingung tentang apa? Tunangan kamu itu?"Zayna mengangguk pelan. Air matanya mulai berkumpul di pelupuk mata. "Tadi aku melihat Zafran berbicara dengan perempuan lain. Mereka terlihat sangat akrab, tertawa bersama. Dan aku..." suaranya bergetar. "Aku merasa dadaku sesak, dokter.""Kamu cemburu," ucap Dokter Langit datar."Tetapi seharusnya aku senang kan? Kalau Zafran tertarik dengan perempuan lain, aku bisa membatalkan pertunangan dengan mudah. Tetapi kenapa aku malah merasa sakit?" Zayna akhirnya menangis.Dokter Langit menghela nafas panjang. Dia meraih tisu dan memberikannya pada Zayna. "Zayna, dengarkan aku baik-baik. Perasaan itu hanya ilusi. Kamu merasa cemburu bukan karena cinta, tetapi karena ego. Kamu merasa kepemilikan terhadap Zafran karena dia adalah tunanganmu. Itu wajar, tetapi jangan

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   153

    Summayah melihat putrinya yang termenung sambil melempar pakan ikan dengan gerakan mekanis. Ada yang tidak beres dengan Zayna, dan sebagai seorang ibu, Summayah bisa merasakannya."Zayna sayang, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Summayah sambil duduk di samping putrinya.Zayna menghela nafas panjang. "Umi, aku melihat Zafran berbicara dengan perempuan lain. Mereka terlihat sangat akrab.""Dan itu membuatmu...?" Summayah menggantung pertanyaannya, menunggu Zayna melanjutkan."Aku tidak tahu, umi. Harusnya aku senang kan? Kalau Zafran tertarik dengan perempuan lain, itu memudahkanku untuk membatalkan pertunangan. Tetapi kenapa..." suara Zayna bergetar. "Kenapa dadaku sesak melihat mereka?"Summayah tersenyum lembut, mengelus rambut putrinya. "Itu namanya cemburu, nak.""Tetapi umi, aku kan tidak mencintai Zafran. Aku bahkan ingin membatalkan pertunangan ini. Kenapa aku harus cemburu?" Zayna menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca."Zayna, hati itu tidak bisa dibohongi. Kamu bisa saja

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   152

    Setelah Zafran masuk ke ruangan lagi, teman-teman Zayna akhirnya menyusul Zayna. Mereka sebelumnya akan menyusul tetapi mereka melihat Zafran tampaknya memeriksa Zayna jadi mereka mengurungkan. Alisha dan Ira menghampiri Zayna yang bengong di suatu sudut."Za, kamu tidak apa-apa?!" tanya Alisha.Zayna terdiam tetapi kemudian menganggukkan kepalanya."Kalau tidak enak badan, mau istirahat dulu di kamar Raisa?!""Tidak enak lah masa istirahat di kamar pengantin baru?" tanya Alisha terkejut."Aku ingin pulang saja sebentar lagi," jawab Zayna."Baiklah. Bagaimana kalau ditemani?!" tawar Alisha.Alisha juga kurang nyaman disini karena dia introvert dan sekarang acaranya ramai ditambah banyak laki-laki. Dia merasa tidak nyaman. "Jangan dong! Kalian harus menemani Raisa sampai akhir. Aku malah berpikir kalau diriku egois tetapi aku emrasa tidak kuat lagi berada disini," kata Zayna."Apa karena Zafran?" tanya Ira.Zayna menoleh ke Ira. Dia tidak mengatakan apapun tetapi kedua matanya meleba

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   151

    Ketika Zayna, Ira, dan Alisha makan di dalam ruangan, sebab mereka malu untuk makan di luar dimana para tamu terus berdatangan. "Makanannya benar-benar enak. Akankah jika kalian menikah, kalian akan catering ini?" tanya Ira. Zayna tersedak. Dia mengulurkan tangan meminta minum pada Ira dan Ira memberikannya. Sementara itu, Alisha tidak menanggapi dan malah dia menyuruh Ira untuk tidak berbicara ketika sedang makan. "Makan itu tidak boleh diganggu tahu," ucap Zayna. "Maafkan aku," ucap Ira. Zayna menggelengkan kepalanya seolah mengatakan tidak masalah. Alisha cuma tersenyum ke anggota keluarga Raisa yang beberapa kali lewat. Sampai akhirnya rekan-rekan dari pihak mempelai pria masuk dan mulai duduk disekitar mereka.Alisha, Zayna, dan Ira panik."Bagaimana ini?!'" bisik Alisha yang paling tidak nyaman. Zayna justru bertatapan dengan Zafran. Tidak cuma itu, teman-teman Zafran yang sudah mengenal Zayna pun meledek Zafran dengan menyenggol lengannya atau tersenyum padanya. Na

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   150

    Aula pernikahan itu dipenuhi nuansa lembut bernuansa putih gading dan hijau zaitun.Kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an menghiasi beberapa sudut, berpadu dengan rangkaian bunga segar yang sederhana namun elegan.Lantunan shalawat mengalun pelan, menenangkan hati siapa pun yang hadir. Tidak berlebihan, tidak gemerlap—semuanya terasa khidmat, sebagaimana doa yang dipanjatkan sejak pagi.Zayna berdiri di ruang persiapan bersama Alisha dan Ira. Mereka bertiga mengenakan gaun bridesmaid syar’i dengan potongan longgar, lengan panjang, dan kerudung yang menjuntai anggun.Warna gaun mereka serasi—lembut, menenangkan—seakan menyatu dengan suasana sakral hari itu.Alisha memandang Zayna dari ujung kepala sampai kaki, lalu tersenyum lebar. “MasyaAllah, Za. Kamu cantik sekali hari ini.”Ira mengangguk setuju. “Cantik yang adem. Bikin orang tenang lihatnya.”Zayna tersenyum malu, menunduk sambil membenahi lipatan kerudungnya. “Kalian juga cantik. Jangan berlebihan, ya.”“Ini bukan berlebihan,” sahut Ali

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status