Dika mendongak, lalu melihat Ewan, Barry, dan yang lainnya berdiri di ujung lain lorong sambil menoleh. Satu per satu menatapnya dengan ekspresi aneh.Dika tidak ingin menghadapi mereka. Sambil menopang dinding, dia berbalik dan bersiap masuk ke kamar.Saat itu, suara Barry terdengar dari belakang. "Dika, kenapa tubuhmu selemah itu?"Nazar ikut berkata, "Bocah, kamu 'kan dokter. Cepat periksa Dika."Ewan berkata, "Nggak perlu diperiksa. Untuk gejala seperti dia ini, cukup makan 100 tusuk ginjal kambing.""Hahaha ...." Semua orang tertawa terbahak-bahak.Wajah Dika memerah."Dika, meskipun jurusmu kalah dariku, daya tempurmu jauh lebih hebat dariku ya," Barry terus menggoda.Tandi berkata, "Dari semalam sampai pagi, suaranya nggak berhenti. Aku sampai mengira musuh datang."Nazar tertawa dan berkata, "Aku tiba-tiba mendapat ilham, jadi membuat sebuah puisi. Silakan kalian menilai.""Langit membentang, padang meluas, Dika dari Keluarga Aditya sungguh buas. Daya tempur luar biasa lama, da
Read more