Semua orang mendongak.Terlihat di atas tembok Kota Terlarang berdiri seorang pendeta tua berjubah Tao. Di tangannya ada pengusir debu, alis putihnya berkibar, aura abadi terpancar. Itu adalah Ketua Akademi Nagendra, Nazar!Ewan langsung tersenyum. Di saat genting, orang tua tak bisa diandalkan ini tetap datang. Namun, detik berikutnya, wajah Ewan langsung menggelap.Nazar berdiri di atas tembok, tangan di belakang punggung. Dia berteriak keras, "Petir dan kilat hantam dia, bunuh Mahendra lalu cari wanita. Kalau tanya cari berapa, nggak boleh kurang dari dua!"Semua orang tercengang.Mahendra malah tertawa marah. Dia mengira Nazar sengaja mempermainkannya, lalu berkata dengan dingin, "Nazar, setelah aku membunuh Ewan, aku akan membunuhmu!""Mahendra, jangan sok hebat di depanku. Hati-hati disambar petir," balas Nazar. Setelah itu, dia kembali berteriak, "Petir, datanglah!"Duar! Lima sambaran petir setebal tong air muncul dari udara, menghantam ke arah kepala Mahendra. Aura yang ditimb
Read more