"Beracun?"Ewan tertegun sejenak. Namun, dia bisa melihat bahwa racunnya tidak terlalu kuat.Awalnya dia ingin memperingatkan Nazar dan Sunnata, tetapi kedua orang tua itu sedang sibuk memetik buah dengan penuh semangat, seolah takut orang lain akan merebutnya.Setelah berpikir sejenak, Ewan memilih diam."Kalau nggak diberi sedikit pelajaran, kalian nggak akan pernah kapok."Melihat Nazar dan Sunnata memetik buah dengan secepat itu, Dewi Kembang juga sedikit tergoda dan hendak ikut memetiknya. Namun, Ewan segera menariknya."Jangan.""Kenapa?" tanya Dewi Kembang dengan bingung.Ewan tersenyum tipis dan berbisik, "Sebentar lagi kamu akan tahu."Dewi Kembang ragu sejenak, tetapi akhirnya memilih memercayai Ewan dan tetap berdiri di tempat. Dalam sekejap, seluruh buah di pohon sudah dipetik habis oleh Nazar dan Sunnata."Tua bangka, kamu dapat berapa?""Tiga puluh satu. Kalau kamu, Hidung Sapi?""Sebelas.""Lumayan, lumayan. Dua puluh buah lebih sedikit dariku.""Huh!" Sunnata mendengus,
Read more